Ketika penjabat sok kenal di jagat maya

SAAT ini media sosial bukan hanya milik anak muda saja. Sejumlah politisi pun mulai memanfaatkan medium seperti Facebook dan Twitter sebagai sarana komunikasi dengan para pendukungnya, minimal dengan para pengikut atau follower-nya. Mulai dari politisi nasional hingga pejabat daerah.

Salah satu contohnya Menkominfo Tifatul Sembiring dengan akunnya @tifsembiring. Menteri asal PKS ini tampak sangat aktif berkicau di media sosial dengan ciri khas berpantun. Menteri lain yang juga mulai aktif ngetwit adalah Menteri BUMN Dahlan Iskan (@iskan_dahlan). Dalam hitungan hari, jumlah follower-nya sudah mencapai puluhan ribu.

Untuk tataran lokal, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dengan akun Twitter @aheryawan pun akhir-akhir ini lebih sering berkicau. Wakilnya Dede Yusuf pun tak mau kalah aktif. Oleh keduanya, pertanyaan atau pun sapaan dari follower tak jarang dibalas. Entah siapa yang membalasnya, apakah mereka pribadi atau stafnya.

Media sosial –terutama Twitter- memang sepertinya sedang naik daun. Tanpa perlu mengeluarkan uang, para pemilik akun dapat mencitrakan diri lewat kicauannya. Bahkan sepertinya media ini cukup efektif bagi para politisi yang ingin mendongkrak popularitas, terutama di kalangan remaja dan kalangan menengah yang sudah tidak asing dengan gadget dan teknologi.

Media ini pun menjadi sarana efektif untuk berkomunikasi langsung dengan para pengikutnya tanpa harus terkungkung birokrasi yang berbelit-belit. Semua orang dapat langsung menyapa, memberikan saran, atau bahkan mencaci maki politisi secara langsung (dengan risiko diblok oleh yang bersangkutan).

Meski dapat dibilang cukup efektif, tidak semua politisi atau pejabat yang memanfaatkan sarana ini dengan baik. Ambil contoh Wali Kota Bandung Dada Rosada dengan akun @dadarosada. Meski sudah cukup lama memiliki akun di media sosial, Dada sepertinya tidak memanfaatkannya dengan baik. Akun ini hanya menjadi sarana komunikasi satu arah, karena hanya memberikan informasi berita mengenai dirinya secara otomatis. Tak ada interaksi personal dengan pengikutnya.

Namun ada yang unik, dibandingkan dengan akun aslinya, akun parodi Dada Rosada, @DadarosadaYeaah malah lebih aktif berkicau. Meski hanya sekadar akun parodi, pengikutnya cukup banyak, mencapai ribuan. Tak jarang para followers mengadukan berbagai permasalahan di Kota Bandung kepada akun parodi ini. Mulai dari kemacetan, banjir, hingga hal remeh temeh. Bak wali kota betulan, akun ini hampir selalu menjawabnya. Meski tentu saja jawabannya terkadang hanya gurauan saja.

Unik namun sebenarnya ironis. Seharusnya bukan akun parodi yang menanggapi keluhan warganya, namun akun sebenarnya. Ini setidaknya menunjukkan bahwa sarana komunikasi warga dengan pemimpinnya tidak cukup baik, setidaknya di ranah media sosial.

*tulisan (sok) serius, dimuat di inilah koran 😀

Ada komentar?

%d bloggers like this: