Ini yang terjadi sabtu malam kemarin

KAMU pernah mencaci maki bupati atau wali kota ketika hampir jatuh di jalan karena jalannya berlubang? Atau kamu pernah memaki dan pemimpin kamu ketika tidak bisa pulang karena jalannya kebanjiran? Saya pernah. Sering malah. Dan acara maki-maki saya di Twitter sabtu malam lalu yang mau saya ceritakan pun kejadiannya mirip. So stay tune.

Sabtu malam. Seperti biasa, saya bisa pulang cepat. Tak lagi pulang jam 12 malam, tapi bisa lebih “siang”, jam 10 sudah bisa meninggalkan kantor tercinta. Begitu pula sabtu (8/6) malam kemarin. Setelah menyelesaikan 2 halaman, saya putuskan untuk pulang cepat.

Tapi sayang, kata seorang teman yang ibunya tinggal di Dayeuhkolot, kawasan Metro dayeuhkolot terendam banjir. Damn. Caci maki pertama. Kalau jalan itu banjir, berarti saya harus lewat buahbatu. Maka malam itu saya putuskan pulang lewat buahbatu. Lebih jauh memang, tapi daripada harus menerjang banjir dengan risiko motor mio saya rusak, lebih baik memutar.

Maka, dari pasteur, saya lewat Jalan Nyland, Wastukencana, Riau, Merdeka, Lembong, RS Muhammadiyah, Laswi, lalu lanjut ke Buahbatu. Hingga perempatan bubat-laswi, nggak ada kejadian apapun kecuali jalanan amsih ramai karena ini Sabtu malam. Memasuki Buahbatu, jalanan sudah mulai nggak macet, meski masih banyak juga mobil dan motor. Masalah dimulai dari sini.

Di sekitar persimpangan Kliningan dekat STSI, dari belakang saya dengar banyak motor yang membunyikan klaksonnya keras-keras. Saya nggak tahu maksudnya, padahal jalanan nggak terlalu macet, tersendat pun hanya karena di sekitar itu ada pembatas jalan jadi nggak bisa ambil lajur lain. Di belakang, suara klakson makin keras, lalu beberapa motor besar (kemudian saya tahu itu jenis Honda Tiger) mulai menyusul dengan kecepatan lebih cepat dari pengguna lain. Dan masih membunyikan klaksonnya keras-keras.

Saya pikir, suara klakson itu bermaksud agar pengguna jalan lain memberikan jalan alias disuruh minggir ke tepi. Tapi saya ngga peduli. bagi saya, selain ambulans dan mobil pemadam kebakaran, saya nggak sudi mengalah dengan mau disuruh ke pinggir. Siapa mereka? Toh sama-sama bayar pajak. Seenaknya aja mau diistimewakan. Juga kalau yang mau lewat itu pejabat, saya biasanya nggak mau ke pinggir. Bahkan seharusnya para pejabat itu melayani rakyat, termasuk para pengguna jalan, bukannya malah maunya diistimewakan. Watak feodal.

Makanya, ketika suara klakson makin ramai dan mulai menyusul, saya tetap berada di tengah lajur. Sejajar dengan bagian ban kanan mobil di depan saya yang jalannya nggak ngebut. Beberapa motor -besar dan kecil- tetap menyusul saya, sementara beberapa pengguna lain mulai menepi. Entah kenapa. Tapi saya memang nggak peduli. saya tetap maju, tapi nggak ngebut karena memang motor saya nggak bisa ngebut.

Ketika saya masih sejajar dengan mobil di depan dan mau menyalip mobil itu (karena lajur sebaliknya kosong), tiba-tiba dari belakang ada yang mendorong tangan kanan saya. “Minggir! **&*&*,” teriak pengendara motor itu sambil melewati saya. Saya kaget, tapi untung masih bisa mengendalikan motor sehingga nggak jatuh atau oleng. Dan untungnya dorongannya memang nggak keras.

Tapi saya tetap kaget. Tangan saya masih gemeteran. Saya nggak bisa membayangkan gimana kalau saya oleng, sementara di depan kiri saya ada mobil, sementara di belakang saya ada banyak motor. Mungkin bisa tertabrak. Atau jatuh. 😐

Sambil kembali fokus ke jalan, saya perhatikan para pengendara motor yang terus menyusul dan kebanyakan pakai jaket hitam itu. Di bagian belakangnya ada gambar harimau. Tapi tulisannya nggak terbaca jelas. Untungnya di perempatan Soekarno-Hatta lampu merah. Maka terbaca jelaslah tulisan klubmotor itu.

Sambil masih gemeteran, saya ngetwit. Saya masih emosi. Juga takut. Juga masih syok.

Lalu di SPBU Terusan Bubat, setelah isi bensin, saya ngetwit lagi beberapa, sebagian lagi ketika sudah sampai Banjaran saat nunggu beli kwetiaw. Masih tetap syok dan emosi, tapi sudah mulai nggak gemeteran.

Kenapa saya ibaratkan mirip gengster? Karena beberpa kali saya pernah berpapasan dengan rombongan gengster, dan kelakuan mereka seperti itu, habisin jalan, bunyikan klakson keras-keras, dan nyuruh orang lain minggir dan menepi.

Namun ternyata twit saya -terutama yang pertama- ada yang diretweet oleh entah siapa karena saya nggak kenal. Saya sebenarnya kaget, jarang-jarang ada yang sengaja lihat twitan random saya. Karena nggak kenal, nggak saya tanggapi juga.

Tapi ternyata nggak seorang yang baca twit saya. Selang beberapa saat, ada lagi yang mention saya, menanyakan maksudnya apa. Karena nggak kenal, saya balas seadanya, asal juga sih jawabnya.

Dia bales lagi, tapi nggak saya tanggapi, males.
Tapi waktu saya bangun pagi -eh siang, ternyata ada yang ngetwit lagi. Saya balas pertanyaannya, kali ini jawab serius tapi seadanya. kenapa? Karena saya nggak ingin ada masalah lagi.

Lalu Ike tanya-tanya lagi. Beberapa nggak sempat saya jawab, sebagian saya jawab.

Dan beberapa lagi.

Jadi, bagi temen-temen TAB yang masih bertanya, ini jawaban saya. Semoga jawaban saya cukup jelas.

Dan usul kepada temen-temen, ketika konvoi, tolonglah hargai pengendara lain, nggak usah klakson-klakson juga. Saya tahu bahwa Sabtu malam kemarin katanya ada musibah yang menimpa anak-anak TAB. Saya turut berduka cita, tapi itu nggak ada hubungannya dengan saya, dan bukan pembenaran juga untuk bisa menyuruh minggir pengguna jalan lain.

Toh kamu yang baca ini pun mungkin nggak peduli waktu sabtu malam itu saya baru ngerjakan halaman olahraga tentang Rafel Nadal dan ingin pulang cepat karena lapar. Juga lagi cari jodoh. halah.

Saya percaya, temen-temen klub motor itu berpendidikan, sehingga lebih mengerti peraturan lalu lintas dan bagaimana mengaplikasikannya di jalan raya.
Sekian.

8 Thoughts.

  1. sia tolol ges puguh bnyakan itu motor sia malah ngalangin dasar Goblok untung juga gk di tabrak … dmna2 konvoi bnyak pasti orng menghargai dan tau attitude pasti minggir nah klo sia orng tolol pastes ga minggiir jngan so mknya klo jadi orng,,make bawa pajak2 deuih hadeuuuhhh

  2. hati2. mulutmu harimau mu. mun geus beunang akibat gara2 omongan. karek nyaho.. dasar alay

    • Insya Allah saya mah suka hati2 om. Ngebut ge teu tiasa.
      Teu siga pemotor nu nyurungkeun batur nepi hampir geubis sambil ngomong kasar.

Ada komentar?

%d bloggers like this: