Salat boleh di langgar

BERAPA tahun kita belajar bahasa Indonesia di sekolah? Kalau saya, 12 tahun plus satu semester. 12 tahun di SD hingga SMA, dan dua SKS saat kuliah dulu. Apakah itu cukup? Seharusnya iya. Seharusnya ya.

Sayangnya ternyata nggak. Setidaknya ini yang saya lihat dari tulisan orang yang sering saya delete edit. Masih banyak yang salah nulis (termasuk yang nulis ini blog).

Oke, saya juga masih sering salah nulis. Terakhir, saya baru tahu bahwa kata yang benar itu meterai, bukan materai. Ternyata saya bertahun-tahun dikibuli para tukang fotokopi yang jual meterai :|.

Yang saya bahas di sini adalah yang sebenarnya sederhana, tapi cukup mengganggu bagi saya yang tiap hari ngedit hingga 50 ribu karakter (kemudian lieur). Apakah itu? Iya benar, yaitu tentang kata ‘di’. Perhatikan kalimat berikut:

Salat boleh di langgar, tapi jangan dilanggar.

Jadi, katanya, penggunaan kata ‘di’ itu ada dua macam, sebagai afiks alias imbuhan, dan kata depan.

Sebagai imbuhan, maka penulisan ‘di’ itu dilekatkan dengan kata dasarnya. Contohnya ya itu tadi, misalnya dilanggar. Kata dasarnya langgar yang artinya bisa dibaca di sini :D.

Nah yang kedua, sebagai kata depan. Contohnya itu, ‘di langgar’. atau ‘di rumah’, ‘di sekolah’, dll. Biasanya sih menunjukkan tempat atau waktu.

Sebenarnya ada satu kata lagi yang biasanya suka salah ditulis, yakni kata ‘sekadar’. Seringkali kita (eh saya mah sudah nggak sih 😀 ), suka salah nulis jadi ‘sekedar’. Coba, ‘sekedar’ itu kata dasarnya apa? kedar? hehe

Ya sudah begitu saja. Semoga bermanfaat. Kalau ada yang salah, silakan dikomen saja tulisan ini. Maklum, saya mah bukan lulusan bahasa indonesia 😀

Ada komentar?

%d bloggers like this: