Kehidupan tak pernah berakhir*

KATA orang, Bandung adalah salah satu destinasi kuliner favorit. Di kota Parijs van Java ini, hampir segala macam kuliner, dari yang tradisional sampai yang lebih modern dari kuliner modern ada. Juga kuliner yang aneh-aneh. Atau mahiwal. Atau unik. Salah satunya restoran vegan yang satu ini.

Sudah sejak lama saya penasaran dengan restoran unik bernama Kehidupan tak Pernah Berakhir. Hampir setiap malam pulang kerja saya lewat di depan restoran yang terletak di Jalan Pajajaran itu. Hampir tiap lewat pula saya penasaran ada apa isinya.

Dari jalan memang restoran ini mudah terlihat. Apalagi papan namanya cukup besar dan dihiasi lampu neon warna-warni. Selain namanya yang unik, restoran vegan ini pun menawarkan hal yang sudah jarang ditemui di rumah makan manapun, bahkan di warteg sekalipun: harga murah. Katanya, nasi plus 4 sayur hanya dibanderol 6 ribu rupiah saja. Murah bukan?

Sayangnya, meski selalu penasaran, sampai menjelang puasa saya belum pernah masuk ke restoran itu. Saya memang tak berbakat mencoba wisata kuliner :D.

Untunglah, teman masa kuliah di UPI dulu, Galih dkk, mengajak kami berbuka bersama di restoran itu. Awalnya beberapa teman kurang menyetujui, karena dikhawatirkan kehalalannya diragukan. Tapi setelah berdiskusi cukup panjang di Fesbuk, akhirnya kami tetap akan buka bareng di sana. Horee.

Tapi di antara kami belum ada yang pernah makan di sana. Jadi belum tahu bagaimana keadaan di sana. Apakah cukup menampung gerombolan kami? Apakah makanannya enak (dan halal)? Dan, apakah ada masjid atau musala di sana? Akhirnya, tanggal 17 Juli kemarin Galih ngajak saya untuk survei tempat. Jam setengah 9 malam, saya dan galih tiba di restoran ini.

Waktu masuk, saya kaget, ternyata tempatnya cukup luas. Selama ini, saya hanya lihat bagian depannya saja, yang menyerupai toko oleh-oleh. Setelah masuk ternyata luas juga ruangannya. Bagian toko yang menjual makanan kering itu ternyata hanya bagian kecil saja. Di dalamnya, ada beberapa macam kursi. Ada yang hanya untuk berdua, berempat, hingga banyakan.

Kami pun mencoba makan di sana. Kehidupan merupakan restoran vegan, tapi kok ada menu daging? Saya jadi nggak percaya. Masa restoran yang digembar-gemborkan antidaging ini malah jualan daging sih? Penasaran, saya coba menu daging rendangnya.

Ternyata itu daging bohongan. Rasanya memang mirip, tapi ketika dibelah sama sendok, nggak ada serat-serat seperti rendang biasa. Wah, kokinya keren ternyata :D. Saya pun percaya di sini memang restoran vegan.

Nggak hanya rendang, ada beberapa menu lainnya yang berbahan dasar ‘daging’. Salah satunya sate. Sayang, saya nggak sempat mencoba satenya. Padahal penasaran juga hehe.

Dan bukber pun jadi dilaksanakan di tempat ini. Sayangnya saya datang telat, gara-gara ikutan workshop si rubah dulu. Sialnya, jalanan kota Bandung sedang parah-parahnya sedemikian sehingga butuh waktu cukup lama untuk sampai ke Jalan Pajajaran dari Jalan Riau. Yang lebih sial, saya salah ambil jalan, sehingga jadinya makin lama sampainya :|.

Di TKP, akhirnya saya nggak sempat pesan makanan, karena baru datang ke sana jam setengah 7 malam. Saat itu teman-teman -Arra dan istrinya, Jaya dan istri dan anaknya, Odhi dan pacarnya, Galih, dan Cepi- sudah mulai makan. Jadi nggak sempat coba satenya deh..

Semoga lain waktu bisa makan di sini lagi. Ada yang mau menemani saya? 😀

1 Thought.

Ada komentar?

%d bloggers like this: