Jalan-jalan ke Situ Sipatahunan

SEUMUR-UMUR hidup di Kabupaten Bandung, saya baru tahu bahwa di daerah Baleendah ada situ bernama Sipatahunan. Itu pun setelah membaca berita yang dibuat teman saya, tentang kondisi Situ Sipatahunan yang mengenaskan.

Karena penasaran, pada Sabtu (20/12/2014) saya sengaja jalan-jalan ke sana. Tentu saja dengan sepeda tercinta. Apa benar kondisinya mengkhawatirkan seperti yang ditulis teman saya?

Dari rumah saya berangkat sekitar jam 9 pagi. Agak siang memang untuk gowes, tapi berhubung ada sesuatu yang harus dilakukan (padahal baru bangun tidur), jadilah rencana sesepedahan jjam 7 pagi terlambat dua jam.

Dari rumah hingga pertigaan Baleendah tak ada kendala berarti. Hanya saja jalan agak padat karena Baleendah dan Dayeuhkolot sudah mulai terendam banjir. Cuma waktu itu banjirnya belum sedahsyat beberapa hari berikutnya.

Meski sudah sering lewat Baleendah, saya bingung saat mencari lokasi situ. Sebelumnya, saya lihat di Google maps, ada jalan yang namanya Situ Sipatahunan, tapi seumur-umur saya belum pernah melewati jalan itu.

Ternyata jalan kecil itu ada di Jalan Laswi. Ini bukan Jalan Laswi Kota Bandung, tapi di Baleendah, yang merupakan jalan yang nyambung ke Ciparay.

Patokan yang paling mudah adalah, jika sudah sampai di tugu Baleendah, beloklah ke kiri yang menuju Ciparay. Sekitar 100-200 meter dari sana ada pertigaan ke jalan kecil. Di mulut jalan ada gapura yang menunjukkan bahwa kita masuk ke lokasi wisata situ Sipatahunan.

Gerbang masuk ke Situ Sipatahunan

Jalan itu cukup kecil, mungkin hanya cukup dilewati dua mobil angkot. Di kiri-kanan jalan saya tak menemukan petunjuk lain ke lokasi situ selain dari gapura tadi. Begitu pun ketika menemui persimpangan, tidak ada petunjuk di mana situ Sipatahunan berada.

Dan karena saya tak tanya ke warga sekitar, saya memilih belok kiri, yang ternyata malah menuju lokasi penambangan batu dan pasir. Akhirnya balik lagi, kali ini memilih jalan ke kanan. Tapi kok kenapa jalannya malah menanjak? Setelah beberapa kali salah jalan, ketemulah saya dengan situ itu.

Ternyata, letak situ tersebut berada di ketinggian. Setidaknya, lokasinya lebih tinggi daripada rumah-rumah di sekitarnya. Aneh juga, karena biasanya situ yang berfungsi sebagai penampung air letaknya lebih rendah dari perumahan, tapi ini tidak.

Situ Sipatahunan yang tak terurus

Seperti air sungai pada umumnya, kondisi air di situ yang katanya seluas 1 hektare ini berwarna coklat. Di pinggir pojok situ tampak ada perahu yang tampaknya tak terurus dan mau tenggelam. Sementara di mulut selokan yang bakal mengalirkan air ini ke sungai kecil di bawahnya tampak tersumbat sampah.

Yang buat sedih, di kedua sisi situ, tampak banyak sampah berserakan yang bekas dibakar. Ya, seperti yang ditulis teman saya, situ ini sepertinya malah digunakan sebagai tempat pembuangan sampah raksasa. Malah katanya sebagian perusahaan membuang limbah di situ tersebut.

Sampah di Situ Sipatahunan

Ironisnya, pemerintah setempat, termasuk pemkab Bandung, seolah merestui tempat itu menjadi tempat pembuangan sampah dengan membangun gedung pengolahan sampah. Bahkan TPSA itu sudah berdiri sejak tahun 1980-an, artinya pemerintah memang membiarkan lokasi itu jadi tidak berguna dan bernilai tambah.

Terbengkalai

Padahal, jika dikelola dengan baik, bisa jadi tempat itu menjadi lokasi wisata menyenangkan.

Tapi ini Bandung, bung! Mana peduli hal-hal begitu?

Ada komentar?

%d bloggers like this: