Tamasya ke Depok

AKHIRNYA cerita tamasya ke Depok selesai juga. Dibutuhkan waktu dua bulan untuk bisa menuliskannya. Tadinya mau belajar nulis panjang, tapi jadinya kepanjangan dan garing -_-.

Sudah jam 10 pagi. Udara Jakarta terasa panas. Tapi mobil travel yang saya naiki belum juga sampai di tujuan. Padahal, kalau sesuai rencana, seharusnya jam 9 kurang saya sudah sampai di lokasi. Bukan di Jakarta, Depok tepatnya.

Ya hari itu, Jumat 8 Mei, ada acara penting di Depok, tepatnya di Universitas Indonesia. Acara setara Asia, GNOME Asia Summit 2015.

Tapi ini sudah jam 10 lebih, dan saya masih terperangkap di mobil travel Cipaganti, dan entah baru sampai mana. Sudah pasti telat sampai tujuan.

Padahal saya sudah merencanakan perjalanan ini dengan cukup baik. Dengan menggunakan travel yang berangkat jam 6, diperkirakan paling telat saya sudah sampai Depok sekitar jam 9 pagi. Walaupun pasti kesiangan, tapi setidaknya tak terlalu ketinggalan.

Tapi sial. Mobil travel yang rencananya saya naiki ternyata mogok. Kabar itu saya terima hanya 15 menit sebelum waktu berangkat. Dengan entengnya petugas mengabarkan bahwa tidak akan ada keberangkatan ke Depok jam 6 pagi.

Katanya, keberangkatan paling pagi adalah sekitar jam 7.30. Artinya saya harus menunggu hingga 1,5 jam. Itu pun belum pasti berangkat tepat waktu, karena sudah pasti jalan Pasteur sudah mulai macet.

Tapi tak ada pilihan lain. Alternatif satu-satunya adalah naik bus dari Leuwipanjang. Tapi setelah dipikir-pikir, waktu tempuh ke Leuwipanjang bisa sampai setengah jam, dan itu pun belum tentu busnya langsung berangkat. Akhirnya dengan terpaksa saya beli tiket travel jam 7.30. Sudah pasti kesiangan.
***
Sebenarnya, awalnya saya tak berniat datang ke acara ini. Soalnya, di bulan yang sama, sudah ada rencana piknik ke Jawa Timur sama teman-teman. Bahkan piknik ini sudah direncanakan sejak tahun lalu.

Pertengahan 2014, teman sekantor mengajak saya ikut piknik ke Malang. Rencananya kami akan piknik ke sejumlah tempat. Selain Malang, juga ke Batu, Banyuwangi, dan Gunung Bromo. Tawaran yang cukup menggiurkan, mengingat saya belum pernah ke tempat-tempat itu.

Awal April, rencana ke Malang masih terngiang-ngiang. Uang tabungan pun sepertinya masih menutupi kebutuhan piknik yang ternyata cukup mahal itu. Tapi di Facebook ada iklan menggiurkan. Di Depok, akan ada acara skala besar, yang digelar di Balairung UI.

Saya pun bimbang. Dari segi waktu, saya bisa ikut dua-duanya. Tapi dari segi dompet, sangat tak mungkin. Akhirnya setelah dipikirkan masak-masak, saya memutuskan untuk tak jadi ikut ke Malang. Ada dua pertimbangan, pertama, piknik ke Malang masih bisa diundur, sebab sangat jarang acara skala Asia digelar di Indonesia.

Tapi pertimbangan paling utama adalah dari segi dompet. Untuk ke Malang, saya harus keluarkan duit hampir 2 juta rupiah. Sementara ke Depok bisa hanya seperempatnya.
***
Saya tiba di Depok, tepatnya Depok town Square sekitar jam 10.30 lebih. Artinya saya sudah ketinggalan dua acara, welcome speech dan keynote speech dari Kominfo. Bahkan mungkin acara ketiga pun bakal ketinggalan pula. Karena itu sekeluar dari mobil, saya bergegas mencari jalan ke UI. Tapi lewat mana?

Saya belum pernah ke Depok. Apalagi ke UI. Dari hasil googling, katanya ada jalan kecil yang tembus dari belakang Detos ke kampus UI. Karena bingung, akhirnya saya ikuti saja orang-orang yang keluar dari kawasan Detos dan menuju jalan kecil, menyeberangi rel kereta api. Karena satu-satunya petunjuk yang saya tahu adalah rel kereta itu.

Ternyata dugaan saya benar. Setelah menyeberangi rel dan masuk ke gang kecil, akhirnya tembus juga ke kampus UI yang megah itu. Tapi pertanyaan berikutnya bermunculan, di mana letak Balairung? Seberapa jauh? Saat itu saya benar-benar buta arah. Sementara hasil terawangan dari google maps tak cukup membantu.

Setelah jalan ke sana kemari, untunglah ada satpam yang sedang jaga. Kata bapak satpam, untuk Balairung cukup mudah, tinggal masuk ke lorong gedung yang entah apa namanya, lalu dari kantin belok kiri. Nanti di depannya adalah Balairung. Untunglah, ternyata sudah dekat.

Tapi setelah masuk kantin, saya bingung lagi. Di mana pintu keluarnya? Bolak-balik di dalam kantin, saya tak menemukan pintu keluar, kecuali jalan yang tadi saya masuki. Untunglah tak ada penghuni kantin yang curiga dengan gerak-gerik saya yang kebingungan cari jalan.

Ternyata saya tak perlu masuk kantin, karena dari lorong itu tinggal belok kiri dan cari gerbang keluar dari gerbang itu. Setelah menyeberang jalan, terlihatlah gedung Balairung yang cukup terkenal itu.

Saat masuk, benar saja, acara keynote speech kedua sudah lama mulai. Saat itu, Pak Anwari alias Pak MDAMT sudah cukup lama tampil di depan mempresentasikan tentang Arsitektur Blankon dan Manokwari.

Saya duduk di kursi barisan belakang. Sendirian. Ruangan ternyata tak terlalu penuh karena masih banyak kursi di bagian belakang yang masih kosong. Saat itu, hampir tak ada satu pun peserta maupun panitia yang saya kenal di dunia nyata. Hampir semuanya saya tahu di dunia maya saja, belum pernah tatap muka di dunia nyata.

Kecuali Pak Acep, yang menjadi pemateri di sesi Lightning talks yang diadakan setelah materi Pak MDAMT. Juga Sendy, teman di Twitter yang dulu pernah ketemuan di Jogja. Di acara ini, dia bertugas jadi MC.

Pak Acep, aktivis Muhammadiyah, merupakan teman kuliah waktu di ITB dulu. Sama-sama penyuka Linux, dan sama-sama pengguna BlankOn (sebelum saya pindah ke Fedora). Di acara ini, Pak Acep menyajikan materi tentang pemetaan amal usaha Muhammadiyah menggunakan perangkat yang ada di BlankOn. Pokoknya keren.

Setelah sesi Lightning talks berakhir, saya temui Pak Acep. Dari dia saya tahu ternyata ada satu lagi teman yang datang ke acara ini, yakni Kang Andi Sugandi, salah satu dedengkot Klub Linux Bandung (KLuB) waktu milisnya masih hidup. Terakhir saya ketemu beliau waktu masih kuliah, di acara KLuB yang digelar di Museum KAA, sekitar 2011.

Setelah Jumatan, acara dilanjutkan dengan sesi kelas paralel. Ada empat kelas paralel yang bisa diikuti. Saat itu, saya masuk ke kelas di ruang 1, dengan pemateri Andre Klapper di sesi pertama dan Shing Yuan Chen di sesi kedua.

Di sesi pertama, Andre menjelaskan tentang pentingnya kontribusi pengguna dalam mencari kutu di sistem Gnome. Menurutnya, semua orang bisa berkontribusi. Bahkan seseorang tidak harus mengerti koding untuk dapat menemukan kutu dan melaporkannya ke sistem.

Sementara di sesi kedua, Chen menjelaskan tentang kiprah komunitasnya mengenalkan dan mempromosikan FOSS ke kalangan siswa dengan menggelar acara menarik, yakni melakukan perjalanan dari Taiwan ke China. Sayangnya, karena keterbatasan bahasa Inggris, materinya kurang tersampaikan dengan baik.

Setelah coffee break, kelas paralel dilanjutkan lagi. Saya pilih ruang 3, yang judul materinya menarik, yakni mengenalkan GNOME dan FOSS dalam proses belajar mengajar. Saat itu saya menduga pemateri bakal menjelaskan bagaimana mengenalkan dan memasyarakatkan FOSS di kalangan sekolah.

Tapi setelah beberapa menit mendengarkan paparan materi, saya pikir materinya kurang pas. Dia hanya memaparkan tentang suka duka mengenalkan Linux ke kalangan mahasiswa, tanpa menerangkan lebih jauh. Saya pikir, untuk kegiatan setara Asia, seharusnya materi yang disajikan bisa lebih mendalam. Tapi tak apalah, setidaknya saya jadi tahu bahwa di Linux pun bisa main Dota 2.

Kegiatan hari pertama berakhir sekitar jam 5 sore, setelah Lightning talks sesi kedua berakhir. Acara akan dilanjutkan hari kedua di tempat yang sama, sekitar jam 9 pagi.
***
Setelah acara beres, saya bingung lagi. Kali ini adalah bingung mencari tempat menginap. Tadinya saya mau nginap di rumah kang Iyan, salah satu senior di KLuB. Tapi karena kang Iyan tak jadi datang, dan saya tak tahu jalan ke rumahnya, saya putuskan menginap di rumah Ade, teman waktu kuliah di UPI dulu. Saya pun janjian di Stasiun UI jam 19.30-an.

Waktu masih kuliah, kosan Ade merupakan salah satu kosan yang sering saya inapi, terutama ketika kemalaman setelah acara di HMI. Waktu itu tempat kosnya cukup jauh dari kampus, di daerah pertigaan Gegerkalong-KPAD. Kamarnya di lantai dua, sekamar dengan Kholis, anak matematika juga.

Sehabis salat magrib di Masjid UI, saya buru-buru ka Stasiun UI yang ternyata cukup jauh. Meski lapar, saya putuskan segera ke stasiun, dengan harapan di kawasan stasiun saya bisa makan dulu. Ternyata setelah sampai stasiun saya baru tahu kalau di sana tak ada satu pun pedagang. Padahal di stasiun sebelahnya, ada banyak pedagang di sekitar stasiun.

Karena tak ada pedagang, saya putuskan langsung masuk ke stasiun. Ini pertama kalinya saya naik kereta komuter. Untuk naik kereta ke Stasiun Depok lama, sebenarnya cukup bayar Rp 2.000. Tapi berhubung saya bukan pelanggan kereta komuter, saya harus sewa kartu sebesar 10 ribu rupiah. Nantinya, kalau tak lagi digunakan, kartu itu bisa dikembalikan, dan uang 10 ribu bisa diambil lagi.

Hampir satu jam saya menunggu di stasiun. Sudah beberapa kali kereta berhenti menurunkan penumpangnya, tapi dia belum juga muncul. Akhirnya sekitar jam setengah delapan, Ade keluar dari kereta.

Ternyata dia tak berubah. Meski sudah punya anak dua, perawakannya masih seperti waktu kuliah. Seperti waktu jadi ketua bidang di BEM MIPA. Sekarang dia bekerja di salah satu bank luar negeri di Jakarta, di bagian manajemen risiko. Katanya, posisi ini masih jarang yang minat karena jobdesknya cukup berat.

Naik kereta di saat jam pulang ternyata cukup horor. Meski banyak yang keluar di stasiun UI, waktu kami masuk, kereta masih cukup padat. Jangan harap ada kursi kosong. Untuk berdiri pun lumayan berdesakan.

Kata Ade, dia setiap hari berjubel dengan para pekerja yang tinggal di kota satelit dan bekerja di Jakarta. Berangkat pagi dan pulang malam naik kereta. Berdesakan. Berbagi keringat. Tapi setelah beberapa minggu naik kereta, dia mengaku punya cara agar tetap kebagian kursi. Apalagi kalau pagi dia berangkat dari stasiun paling awal, Depok lama, jadi peluang dapat kursi cukup besar.

Sepertinya masalah transportasi bagi pekerja di luar kota dan bekerja di Jakarta cukup pelik. Mau naik motor, sudah pasti terbayang macet dan panasnya. Apalagi naik mobil pribadi, mungkin harus berangkat subuh? Sementara naik kereta harus mau berdesakan bersama ribuan penumpang lainnya.

Sebenarnya kondisi di Bandung juga tak jauh beda. Kalau berangkat pagi, sudah dipastikan jalanan yang menuju kota Bandung macetnya sangat parah. Apalagi tak ada moda transportasi kereta dari luar ke dalam kota, kecuali KRL dari arah Padalarang dan Rancaekek. Sementara bagi warga Bandung selatan, harus menerima kenyataan berpanasan di jalan. Nasib.

Sepanjang perjalanan dari Stasiun UI ke Depok lama yang ternyata tak terlalu lama itu, saya mengandaikan jalur kereta Ciwidey-kota Bandung kembali diaktifkan, mungkin sebagian warga memilih naik kereta.

Ah tapi reaktivasi rel itu cuma wacana saja. Setidaknya sejak 2009, waktu saya masih liputan di Gedung Sate, Pemprov bersama PT KAI yang punya lahan sudah merencanakan membuka kembali rute itu. Tapi sudah 6 tahun, rencana itu hanya wacana saja. Malah bikin rencana baru: membuat monorel. Program ini pun hampir dipastikan cuma wacana.

Dari Stasiun Depok Lama, ternyata kami harus naik motor untuk sampai ke kawasan perumahan tempat Ade dan keluarganya tinggal. Seperti kebanyakan pekerja, dia memarkirkan motornya di salah satu rumah warga dekat stasiun yang menjadikan halaman rumahnya jadi tempat parkir. Setiap pagi dia parkir di sana, dan malamnya dia ambil lagi motornya. Saya lupa berapa ongkosnya, kalau tak salah harganya lumayan.

Saya tiba di rumah Ade sudah cukup larut. Kalau tak salah sekitar jam setengah 10. Kedua anaknya sudah tidur. Rumahnya berada di kawasan ujung perumahan yang saya lupa namanya, dan saat itu baru rumahnya yang sudah ada penghuninya. Rumah di sebelah kiri-kanan masih belum selesai dibangun. Tapi suasananya nyaman, karena cukup jauh dari jalan raya, sehingga tak terganggu polusi suara.

Pagi-pagi, setelah mandi dan sarapan, Ade antar saya ke UI. Tadinya mau coba naik kereta lagi, tapi berhubung acara pertama dimulai jam 9 pagi, akhirnya saya terima tawaran Ade yang mau mengantarkan sampai ke kampus UI. Dan sekitar jam 9 saya sudah di lokasi.

Acara pertama diisi keynote speech oleh GNOME board, yakni pak Tobias Mueller dan dilanjutkan sama mbak Ekaterina Gerasimova. Pak Tobias menyampaikan materi tentang GNOME, sejarahnya, dan fitur yang diusung pada GNOME 3.16 yang baru dirilis.

Katanya, banyak fitur baru dan perbaikan pada versi terbaru ini. Salah satunya notifikasi yang kini disatukan dengan kalender pada gnome-shell. Juga ada program baru, GNOME Builder, semacam IDE yang mirip Atom keluaran GitHub.

Sementara saat sesi mbak Ekaterina, dia mengajak semua peserta untuk berdiskusi secara lebih informal. Tak lagi berdiri di panggung, tapi duduk berdekatan dengan peserta di bawah. Diskusi berlangsung cukup meriah, apalagi ada hadiah bagi para penanya.

Tadinya saya mau bertanya, tentang GNOME untuk komputer lawas, tapi keburu ada yang bertanya. Juga mengenai fitur di Nautilus yang hilang, yakni fitur split, yang menurut saya cukup banyak membantu, tapi sejak versi 3.12 (kalau tak salah), fitur itu dihapuskan.

Materi di kelas paralel di hari kedua semuanya menarik. Setidaknya dari judul di jadwal. Salah satunya materi yang dibawakan Pak Yanmarshus. Di ruang 3, Pak Yanmarshus menjelaskan tentang teknologi di balik pengolahan data pemilu 2014 lalu, yang sebagian besar menggunakan aplikasi FOSS, seperti python, sed, imagemagick, dll. Dan program FOSS ternyata cukup powerfull untuk mengolah jutaan data dengan waktu relatif mepet.

Pembahasan menjadi lebih meriah karena peserta ternyata banyak juga yang bertanya di luar konteks materi, tapi lebih ke masalah politiknya. Bahkan setelah waktu habis, beberapa peserta -termasuk saya- masih asyik berdiskusi bersama dia.

Sesi berikutnya yang saya ikuti adalah mengenai BlankOn Installer oleh pak Herpiko. Materinya menarik, karena pak Herpiko menjelaskan tentang teknologi HTML5 dkk yang digunakan sebagai antarmuka installer BlankOn X Tambora yang kini sudah masuk tahap beta.

Katanya, di versi ini, BlankOn sudah mendukung komputer yang pakai UEFI. Tapi sayang saya belum coba, karena masih trauma instal linux lagi, setelah sempat kernel panic waktu instal Fedora beberapa bulan lalu.

Sesi terakhir yang saya ikuti adalah kelas Pak Franklin Weng yang membawakan materi tentang Ezgo dan promosi FOSS yang selama ini menurutnya mengambil pendekatan yang salah.

Kenapa salah? Karena selama ini sebagian besar dari pengguna Linux atau FOSS selalu membenturkan FOSS dengan sistem tertutup yang telah mapan, terutama Windows. Padahal, kata dia, sebagian pengguna tak begitu peduli dengan isu pembajakan yang biasanya diusung pejuang FOSS. Selama sistemnya tak bermasalah dan aplikasinya berjalan dengan baik, kenapa harus pindah ke FOSS?

Maka, sejak beberapa tahun terakhir, dia bersama pengembang Ezgo mengambil pendekatan berbeda. Alih-alih membenturkan FOSS vs Windows, dia lebih memilih mencari celah dari sistem tertutup, dalam hal ini windows, yang bisa dimasuki oleh FOSS dan tak digarap oleh sistem berbayar itu. Salah satunya yang sukses besar adalah mempromosikan FOSS di bidang pendidikan.

Tak seperti BlankOn, Ezgo bukanlah sebuah distro Linux, namun hanya sebuah fitur tambahan yang ditanamkan pada distro Linux, dalam hal ini Ubuntu. Lewat Ezgo, Franklin dkk mengumpulkan sejumlah aplikasi pendidikan yang berkualitas namun dengan lisensi FOSS, lalu dibungkus dan dimasukkan ke distro Linux.

Hasilnya ternyata luar biasa. Meski awalnya kurang dilirik pemerintah, kini Ezgo sudah menyebar di banyak sekolah di Taiwan.

Kabar gembiranya, katanya akan ada kerja sama antara BlankOn dengan Ezgo. Sehingga nantinya fitur itu akan hadir di BlankOn. Semoga hal itu segera terwujud. Sebagai guru matematika yang berusaha mempromosikan Linux dan FOSS, saya sangat terbantu jika ada fitur semacam Ezgo. Selama ini, saya hanya pakai Geogebra untuk aplikasi geometri, padahal masih banyak aplikasi lain yang bisa digunakan untuk mendukung KBM.

Sekitar jam 17.30 akhirnya acara GNOME Asia Summit berakhir juga. Setelah foto bersama puluhan peserta dan panitia, saya putuskan segera pulang, mengejar travel jam 19.00 dari Detos lagi. Keluar dari Balairung, saya ketemu kang Iyan, dan mengajak pulang bareng. Kebetulan dia sudah pesan taksi, tapi dia rencananya pulang naik bus dari terminal Depok.

Tapi lalu lintas Depok Sabtu malam memang luar biasa. Meski hujan gerimis, lalu lintas sangat padat. Jarak tempuh dari UI ke Detos yang sebenarnya dekat kalau jalan kaki, kalau naik taksi ternyata memakan waktu sekitar setengah jam. Untunglah gara-gara jalan yang macet parah, mobil travel yang sedianya berangkat sore dan malam gagal berangkat.

Kata mbak petugas, mobil yang seharusnya berangkat jam 4 sore gagal berangkat karena tertahan macet parah. Beruntung, setengah jam berikutnya ada kabar baru, bahwa kami bisa segera berangkat setelah mobil travelnya tiba di pool.

Ternyata ada dua mobil yang bakal berangkat. Padahal jumlah penumpang tak lebih dari 5 orang. Saya kebagian naik mobil belakang, yang ternyata hanya sendirian. Sementara sisa penumpang lainnya naik mobil yang di depan. Sekitar jam setengah 8 malam kami pun berangkat.

Macet ternyata sangat parah. Di tengah gerimis, seringkali mobil yang kami tumpangi harus diam cukup lama karena saking macetnya lalu lintas ibu kota.

Hampir jam 9 malam, mobil masih berputar-putar di kawasan Jakarta, belum juga masuk tol. Itu artinya sudah satu jam lebih saya di mobil. Ternyata kali ini tak hanya berdua karena ada penumpang tambahan, seorang ibu dan anaknya yang duduk di depan. Si ibu tampaknya cukup mengenal lalu lintas Jakarta, dia menjadi pemandu mobil hingga akhirnya bisa masuk ke tol. Setelah masuk tol, lalu lintas mulai lancar dan mobil pun bisa ngebut.

Di rest area, mobil berhenti. Karena lapar saya beli makanan di Indomaret. Ketika kembali lagi ke mobil, ternyata pak sopir meminta saya pindah ke mobil lain, mobil yang tadi berangkat bareng dari pool. Dia beralasan mobilnya takkan lewat Pasteur karena mau ke pool Buahbatu. Sial.

Meski sebal dan -sekali lagi- kecewa dengan pelayanan Cipaganti, apa boleh bikin, saya harus turun dan pindah mobil.

Setelah saya pindah, mobil pun mulai meninggalkan rest area. Meski ini sabtu malam, ternyata lalu lintas tak terlalu padat. Mungkin karena sudah larut, dan sebagian besar orang Jakarta yang ke Bandung sudah sampai di tujuan. Maka sekitar jam 11 malam, mobil yang kami tumpangi sudah tiba di Bandung, tepatnya di pool Cipaganti di kawasan Pasteur.

Sampurasun Bandung!
***
Dua hari ikut seminar, apa yang didapat? Cukup banyak sebenarnya. Selain sejumlah goodiebag (mug, pulpen, buku Inkscape, kaos Gnome, kaos openSuse, dll), kali ini saya berusaha tak hanya sebagai pengguna saja.

Sudah sekitar sebulan saya gabung di Gnome-i10n, yang tugasnya menerjemahkan GNOME ke bahasa Indonesia. Ya meskipun akhir-akhir ini saya belum setor lagi hasil terjemahan. Menurut Ekaterina, meski untuk penerjemahan tampilan antarmuka ke Bahasa Indonesia sudah hampir rampung, tapi untuk dokumentasi masih sangat kurang, baru mencapai 20%.

Selain itu, saya jadi rajin kirim kutu ke GNOME, khususnya ke Fedora. Sebenarnya ini karena ada aplikasi Abrt yang otomatis melaporkan kutu ke bugzilla. Tapi kali ini laporan lebih detail, karena saya berusaha masukkan sejumlah informasi lain yang diharapkan bisa membantu pengembang menambal kutu tersebut.

Tak hanya itu, sekarang saya sedang belajar membuat ekstensi gnome-shell. Tapi karena dokumentasi gnome-shell yang sangat minim, ekstensi yang sedang dikembangkan ini masih mandek.

Ada yang mau bantu? 😀

Ada komentar?

%d bloggers like this: