Hilang data berkat Btrfs

Sejak mengenal linux beberapa (belas) tahun lampau, saya biasanya memformat harddisk untuk Linux dengan filesystem ext4 atau reiserFS waktu masih pakai keluarga Slackware. Tapi waktu memasang openSuse pada akhir Agustus tahun lalu, saya mulai mencoba filesystem baru yang menjadi default si bunglon, yakni Btrfs.

Dari hasil baca-baca sekilas, katanya Btrfs merupakan filesystem masa depan karena memiliki banyak keunggulan dibanding filesystem lain. Dari bacaan di sini, katanya salah satu fitur Btrfs adalah kemampuannya dalam menangani harddisk yang berkapasitas jumbo, hingga 2^64 byte, atau 9.223.372.036.854.775.808 byte, atau setara 9223.3720368547765247 petabyte. Besar pokoknya.

Keunggulan lainnya adalah fitur snapshot. Dengan ini, sistem akan melakukan snapshot dari sistem operasi yang sedang berjalan. Dari situs ini, fungsi snapshot adalah sebagai berikut:

A snapshot is a special type of subvolume. It is a copy of a subvolume, without the parent or child subvolumes. The snapshot does not make copies of files, but shares the data and metadata of the original subvolume, so it’s space-efficient and extremely fast to create.

Nah masalahnya, si snapshot ini menyebabkan pemakaian harddisk meningkat tajam. Alokasi openSuse sebesar 50GB di laptop saya ternyata tidak cukup untuk menampung data-data snapshot itu. Padahal dari hasil investigasi, sistem yang terpakai untuk openSuse hanya sekitar 12GB saja. Sisanya, habis untuk data snapshot.

Dan inilah awal malapetakanya. Ketika sedang asyik –nonton– build, tiba-tiba laptop mulai aneh. Android Studio mulai tak bisa dibuka, karena katanya no free space. Padahal dari hasil du, masih ada sekitar 11 GB. Ke mana sisanya?

Dari hasil konsultasi di grup FB, ada yang mengusulkan untuk menghapus data snapshot. Karena terburu-buru, saya langsung hapus direktori itu lewat ubuntu yang terpaksa saya pasang di partisi lain. Berhasil? Tentu saja, tidak. Si bunglon malah semakin bermasalah.

Ternyata apa yang saya lakukan salah besar. Harusnya, untuk menghapus data snapshot itu bukan dengan menghapus direktorinya, tapi menggunakan alat lain seperti snapper. Aplikasi ini berfungsi menghapus data back-up snapshot yang kira-kira sudah tidak terpakai. Hanya saja, karena direktori snapshot sudah telanjur dihapus, snapper tidak lagi berfungsi.

Satu-satunya jalan yang bisa saya lakukan akhirnya dengan menginstal ulang. Duh. Selamat tinggal data 50GB yang terpaksa saya format ulang. Selamat tinggal database yang tak sempat terselamatkan 😐

Mari kita kembali ke ext4 dulu saja.

Ada komentar?

%d bloggers like this: