Semacam review Redmi Note 4

Sudah seminggu terakhir saya pindah haluan, dari pemakai ponsel SNSV alias Asus ke Xiaomi. Tepatnya Xiaomi seri Redmi Note 4 edisi resmi, bukan edisi pasar gelap. ehe ehe ehe.

Kenapa ganti? Begini ceritanya. Alkisah, dua minggu lalu pada sore hari menjelang berbuka, hujan besar melanda Kota Bandung. Saat itu saya sedang di atas motor. Sudah pasti kehujanan.

Sialnya, saya tidak sadar bahwa ternyata kantong tempat menyimpan ponsel ikut basah. Padahal biasanya tidak. Sudah pasti ponsel SNSV yang beberapa kali bermasalah itu pun kembali berulah. Kali ini lebih parah: layar LCD-nya mati.

Singkat cerita, akhirnya saya ke BEC untuk reparasi layar ponsel… dan berakhir di toko Erafone dengan menjinjing kantong merah berisi Xiaomi Redmi Note 4 😀

Sewaktu niat mau ganti ponsel, pilihan saya cuma sedikit. Kalau tidak Xiaomi ya ponsel merek Samsung atau Sony. Tapipak, kedua merek terakhir harganya mahal-mahal. Akhirnya piilihan mengerucut ke dua seri Xiaomi, Note 4 dan Redmi 4x.

Di situs Lazada, harga keduanya beda tipis, cuma beda Rp300 ribuan. Dengan segala pertimbangan, akhirnya dipilih Redmi Note 4. Kenapa?

Pertimbangan pertama, harganya tak jauh beda. Hanya nambah sekian ratus ribu, dapat seri yang relatif lebih bagus. Pertimbangan kedua, masalah resolusi layar. Dengan lebar diagonal layar mencapai 5,5 inci, resolusinya mencapai 1080 x 1920 piksel, sama dengan Zenfone 2. Fitur lainnya saya tak terlalu peduli, toh mirip-mirip hehe.

Nah, setelah seminggu pegang Redmi Note 4, bagaimana kesan-kesannya? Kesan pertama adalah ponsel ini sangat licin! Jadi agak khawatir juga pas pegang ponsel ini jika tak pakai baju tambahan. Terpaksalah saya beli casing tambahan plus layar antigores demi agar tidak mudah lepas ketika dipegang.

Awalnya saya pikir ini hanya terjadi di ponsel saya saja, tapi waktu saya tanya ke teman yang beli Redmi 4x, ternyata sama juga. Hmmm.. Buat apa fitur bodi yang licin ini?

Kesan kedua, saya agak terganggu dengan antarmuka tombol back-home-menu yang berbeda dengan Android lain pada umumnya. Di semua seri Xiaomi, tombol back ada di sebelah kanan, padahal umumnya di kiri. Jadi sampai sekarang saya masih beradaptasi dengan tata letak tombol yang aneh ini.

Kesan ketiga, tampilan MIUI cukup menarik, walaupun saya pikir terlalu mirip UX iPhone :D. Sayangnya, ternyata agak sulit untuk modif tema, terutama ikonnya.

Kalau mau ubah ikon, harus sekalian ubah temanya juga. Padahal saya cuma mau ubah ikonnya saja, pakai ikon punya numix.

Hal lain yang cukup menyebalkan dari ponsel ini adalah masalah mode developer. Untuk masuk ke menu developer memang gampang. Tapi sayangnya, ada yang harus dimodifikasi agar saya bisa dengan mudah melakukan debug aplikasi Android. Mungkin untuk masalah ini harus ditulis di blog terpisah #awalWacana.

Lanjut. Salah satu yang paling saya suka dengan ponsel ini adalah kapasitas baterenya yang cukup besar. Dengan kapasitas mencapai 4100 mAh, saya jadi jarang charge ponsel. Bahkan jika tidak terlalu banyak main game, si ponsel bisa bertahan hingga 24 jam. Itu sudah termasuk browsing, buka whatsApp + telegram, dan bersosmed di Twitter dan Instagram.

Ini berbeda dengan Zenfone 2. Dengan aktivitas serupa, kapasitas batere bisa turun drastis dengan cepat. Bisa jadi baterenya sudah uzur, sih. Maklum sudah 2 tahun :D.

Tantangan selanjutnya dengan Note 4 ini adalah: Pasang custom ROM! :D. Tapi sepertinya itu masih berupa wacana. Sampai sekarang masih cukup puas dengan ROM bawaan. Semoga betah.

Ada komentar?

%d bloggers like this: