2010

HARI terakhir di tahun 2010. Ah, tapi seperti kata teman saya, sebenarnya nggak ada bedanya antara hari ini dengan besok. Detiknya masih sama, 86400 detik. Toh setiap hari selalu baru bukan? Jangankan hari, setiap detik pun pasti selalu baru. Tapi supaya mengikuti arus zaman yang selalu merayakan pergantian tahun dengan berbagai cara salah satunya dengan membuat resolusi dan evaluasi setahun ke belakang, maka dibuatlah tulisan ini.

Hmm.. sebenarnya tak ada yang baru dalam setahun ke belakang. Sejak setahun lalu, eh tepatnya Oktober 2009, dengan sukses dan meyakinkan saya didaulat menjadi kalong. Pergi sore -atau siang- dan pulang pagi. Ya minimal jam setengah satu lah pulangnya. Jadi, selama Januari hingga Desember ini, mungkin lebih dari 90 persen menghabiskan malam di kantor. Sambil ngaraut tentunya. Bercinta dengan tuts keyboard yang sudah hilang tulisan hurufnya.

Kadang bosan juga. Beda dengan bulan-bulan sebelumnya yang diwarnai dengan bangun pagi-macet-macetan-keliling kota-ngetik-pulang malam. Tiap hari. Nggak ada lagi kesempatan bertemu dengan orang nomor satu jabar yang suka pegang-pegang jenggot kesayangan, atau lihat orang teriak-teriak nggak jelas di gedung bersate itu. Kadang suka serem kalau pulang lebih dari jam 12 malam. ya tahulah bagaimana reputasi Kota Bandung dengan banyaknya para jagoan bermotor yang nggak jagoan itu.

Cuma itu saja setahun ini? Nggak ada yang menarik? Tentu saja ada. Beberapa sih. Tepatnya sekitar pertengahan tahun. Sebuah email di salah satu milis yang saya ikuti, ada pengumuman beasiswa ke sekolah berlambang gajah. Tentu saja saya yang masih punya mimpi untuk bisa sekolah lagi nggak menyia-nyiakan kesempatan itu. Maka dengan niat yang tulus dan keberanian yang menggelora, saya memutuskan untuk mencoba daftar.

Tapi bagaimana mungkin, ternyata untuk daftar ujian itu, saya harus bayar sekian ratus ribu. Sebenarnya nggak terlalu besar, tapi karena saya memang nggak bisa menjaga tabungan dengan baik sedemikian sehingga sering kali miskin di akhir bulan, saya kebingungan. Dari mana saya dapat uang itu dalam waktu singkat? Jual motor? rasanya bukan pilihan bijak. Mau pakai apa saya ke kantor dan ngukur jalan Bandung nantinya? Atau jual henpon? Ah Nokia 2300 berapa sih harganya di konter hape? Jadilah saya bingung.

Untunglah Tuhan masih sayang sama saya yang selalu meminta pertolongan *oh tidak, memangnya Tuhan itu pesuruh kamu? *. Saat lagi bingung, tiba-tiba ada yang menelepon, dari nomor yang nggak dikenal. Setelah diangkat, ternyata bapak itu adalah petugas Pemkot Bandung. Loh ngapai nelpon saya? Saya kan bukan peenes pemkot? Setelah basa basi sebentar, ternyata beliau mau bayar uang iklan sebesar sekian juta, hasil iklan yang dimuat waktu Desember 2009.

Akhirnya… kalau saya dapat uang itu, maka saya punya persekot _PAS_ untuk bayar biaya ujian itu. maka siang itu dengan semangat menggebu-gebu datanglah saya ke Balaikota untuk ngambil uang. Alhamdulillah.. Hidup memang harus pas-pasan.

Singkat cerita, daftarlah saya ke kampus itu. Ternyata saya harus ikut 3 ujian. Pertama, ujian materi. Kedua, ujian bahasa inggris karena saya nggak punya sertifikat bahasa inggris yang disyaratkan kampus. Ketiga, saya harus ikutan ujian TPA yang katanya sangat susah itu. Demi niat baik untuk mengubah nasib bangsa, maka saya penuhi semua syaratnya.

Waktu tes bahasa Inggris, saya sempat pesimis. Bukan saja karena saya memang nggak bisa cas cis cus bahasa Inggris, tapi tempat ujiannya yang kurang memadai. Beda dengan waktu tes PTESOL waktu di almamater tercinta dua tahun lalu. Anehnya, ternyata hasilnya cukup meyakinkan! hihihi… Lumayanlah..

Tes kedua, tes TPA alias Tes Potensi Akademik yang digelar Bappenas. Beberapa minggu sebelumnya saya sudah siap-siap ikut ujian ini dengan cara pinjam buku latihan TPA milik adik tingkat yang sudah setahun kuliah Magister di sana. Namun, karena saya sangat sok sibuk, nggak semua buku saya baca. ya, saya cuma baca sekilas saja, belum sampai ngulik. Saya cuma baca soal-soal logika dan statistik yang memang nggak saya kuasai. Soal hitungan? Ah gampang, kan walaupun sedikit murtad, saya masih lulusan matematika hehe..

Dan benar saja apa yang dikatakan orang-orang bahwa ujian TPA memang menyebalkan. Susahnya minta ampun. Apalagi saya nggak fit gara-gara kerja sampai dini hari. Bahkan saya ngerjain soal Bahasa Indonesia sambil ngantuk. Pas masuk bagian soal matematika dan logika, wew ternyata soalnya memang sulit sodara-sodara. Seingat saya, hampir 30-60 soal nggak saya jawab, terutama soal bagian logika. Sisanya -terutama di soal-soal akhir- saya cuma ngitung kancing. Yang penting diisi.

Lalu beberapa waktu kemudian, diumumkanlah hasilnya. Pas saya lihat, saya nggak percaya. Bahkan waktu keluar gedung menuju tempat parkir, bebrapa kali saya senyum sendiri. Ini teh bener? Saya heran, kok bisa saya dapat nilai lumayan bagus hihi.. Memang bukan di peringkat-peringkat atas, tapi lebih dari cukup buat syarat minimal yang diterapkan nilanya 450 itu. Ah.. ternyata benar, kalau kita bersungguh-sungguh, semesta bakal mendukung untuk mewujudkan mimpi kita.

Tapi sayang, Dewi Fortuna kurang berpihak pada saya ketika ujian akademik. Kata teman saya yang juga kuliah di jurusan itu, soal yang diberikan bakal sulit, setingkat advance lah. Maka beberapa hari sebelumnya saya buka buku-buku kuliah yang sudah mulai berdebu. Saya buka kalkulus jilid II, Baca matriks yang sulit-sulit, juga beberapa buku yang jarang dibuka kecuali mau ujian saja.

Tapi pas ujian, ternyata yang keluar soal tingkat dasar! Saya yang memang rada tulalit buat ngerjain kalulus matriks dkk jadi bingung. Sebenarnya soalnya gampang, dan waktu kuliah soal-soal itu bisa dikerjakan dengan mudah. Tapi kan itu 5 tahun yang lalu. Itupun dulu banyak dibantu teman-teman yang otaknya encer-encer hehe.. Untungnya soalnya berbentuk pilihan ganda, jadi saya bisa ngitung kancing lagi :D.

Ujian tes masuk itu digelar akhir Juli. Sampai sebulan, belum ada pengumuman atau pemberitahuan atau apapunlah tentang hasil tes itu. Dua bulan, masih belum ada juga. Iseng saya tanya lewat email, apakah pengumumannya sudah ada atau belum, sayang nggak dibales email saya. :(. Sampai pertengahan November, masih belum ada kabar juga.

Ya sudahlah, mungkin saya memang nggak berbakat kuliah lagi. Mungkin saya sudah terlalu pintar jadi nggak usah sekolah lagi :D. Maka saya pun kembali berpikir rasional dan nggak mengkhayal lagi. Saya ubah mimpi saya, sekarang saya ingin punya sepeda! Nggak usah kuliah lah, yang penting punya sepeda hehe..

Akhir November, ketika sedang makan bareng di sebuah pujasera di Jalan Merdeka seberang BIP, ada SMS dari staf TU kampus itu, katanya suruh kirim lagi formulir pendaftaran (padahal sudah). Apa ini pertanda? Saya nggak tahu. Ya sudah, esoknya saya kembali terbang ke kampus tercinta dan ketemu sama dosen wali yang saya kagumi itu. tentu buat minta tandatangan beliau. Untungnya beliau memang sangat baik, dan dengan senang hati direpotkan oleh mantan mahasiswanya yang baik hati ini :D.

Lalu hasilnya gimana? Euh… sampai sekarang belum ada :D. Tepatnya belum jelas hihi.. yang pasti, saya nggak terlalu berharap ah. Keterima syukur, nggak keterima juga syukur. Let it flow, kata temen saya mah.

Sudahlah, ceritanya sekian dulu. Semoga bisa disambung lagidengan tema bagian dua: Gadget. Ya, tahun ini saya BISA BELI HENPON! Sekian dan terima kasih.
*Ternyata sya bisa nulis panjang juga*

0 Thoughts.

Ada komentar?

%d bloggers like this: