2013, semacam kaleidoskop

TAHUN 2013 hampir habis. Bagi saya, ini merupakan tahun yang luar biasa. Banyak kejadian tak terduga. Beberapa mimpi akhirnya terwujudkan di tahun ini. Bukan, bukan masalah jodoh.

Baiklah, seperti orang gahool lainnya, mari kita rekap apa saja yang menarik di tahun ini. Semoga dalam satu tulisan bisa cukup. Kalau tidak, ya kita buat dua atau tiga bagian, sehingga blog ini semakin banyak tulisannya :D.

Yang pertama, tentu saja mimpi untuk bisa lulus dari kuliah kedua di kampus gajah. Mungkin ini salah satu mimpi terbesar di tahun ini yang mampu diwujudkan. Bagaimana tidak, saya sempat stres karena tak kunjung lulus dari lab basement yang pengap itu.

Ya, saya sempat stres, karena sesuai jadwal, seharusnya kami lulus pada Juli 2012 seperti teman-teman lainnya. Sempat ada wacana bisa lulus Oktober, eh ternyata gagal lagi. Makanya, ketika masuk Desember, saya cemas, bisakah lulus semester ini?

Banyak konsekuensi ketika saya nggak bisa lulus sebelum semester itu berakhir. Salah satunya (dan ini yang palling berat) adalah harus bayar (lagi) uang SPP, karena beasiswa habis pada Juli lalu. Dan ada kemungkinan harus ngontrak lagi matakuliah tesis, yang artinya bayar SPP akan lebih besar.

Untunglah itu tak terjadi. Kami berempat akhirnya dapat lulus dengan selamat di awal Januari, di hari terakhir batas waktu sidang untuk semester itu. Meski kecewa karena lagi-lagi merasa apa yang ditulis di tesis jauh dari sempurna (bahkan jauh dari target awal), saya tetap bersyukur karena masih bisa lulus :D.

Jauh dari sempurna. Mungkin jauh banget. Tapi dari awalnya proyek tesis ini memang beberapa kali berubah. Ketika pertama kali mengerjakan proyek ini, awalnya kami bakal mengerjakan kelanjutan proyek tahun sebelumnya, yakni simulasi sepakbola robot dua dimensi. Semacam Football manager.

Tapi ketika sudah berjalan, lalu tema penelitian berubah, jadi mengerjakan simulasi untuk 3 dimensi. Sudah susah-susah menginstal berbagai macam librari, eh ternyata kembali berubah. Kini lebih ekstrem: melanjutkan proyek penelitian mirosot. Ke robot. Ah, makhluk apa itu…

Belum terlalu ekstrem? Dalam perkembangannya kami ternyata diminta membuat robot sepakbola, tak lagi menggunakan robot keluaran Yujin!

Ketika awalnya kami hanya melanjutkan penelitian di bagian AI saja, kini benar-benar harus dimulai dari awal. Dan ini melieurkan… Terutama bagi saya yang backgroundnya bukan di hardware. Untunglah banyak yang membantu, nggak hanya kami berempat yang mengerjakan penelitian ini.

Selama beberapa bulan selanjutnya kami bergumul dengan beragam hardware yang entah apa namanya. Tapi di sini saya mulai mengenal beberapa perangkat yang sepertinya sedang in, seperti Arduino dan kawan-kawannya. Sempat beberapa kali belajar Arduino sebelum akhirnya meninggalkan perangkat ini karena ternyata nggak cocok untuk dibikin robot sepakbola :|.

Dan setelah banyak dibantu oleh banyak orang, akhirnya si robot berhasil dirakit (terima kasih Pak Ucok dkk). Bisa main bola? tentu saja belum, karena memprogram sebuah perangkat keras itu ternyata ribet sodara. Untunglah saya hanya bermain di level AI (itu pun dasar) dan server-client. Robot yang setengah jadi itu pun belum punya baju, sehingga akhirnya dengan terpaksa mengkanibal robotnya Yujin.

Begitulah, long story short (ini artinya apa???) akhirnya si robot punya baju dan bisa sedikit diperintah dan sedikit bisa bermain bola sedemikian sehingga kami dinilai bisa lanjut ke tahap selanjutnya: buat tesis dan SIDANG!

Jalannya proses menuju sidang dan sidang sendiri cukup ribet. Setidaknya bagi saya. Hingga beberapa hari menjelang sidang, masih belum ada kepastian apakah kami bisa sidang atau tidak. Juga masalah tesis yang tak kunjung selesai dan terutama ditandatangani dosen pembimbing.

Ya salah saya juga sih karena nggak menyiapkan dokumen tesis jauh-jauh hari. Terlalu fokus di produk, dan sayangnya entah fokus di apa karena seringkali ketika mengerjakan produk malah nggak tahu mau ngapain (dan akhirnya malah buka 9gag seharian).

Meski sangat tidak sempurna dan jauh dari harapan, akhirnya kedua pembimbing kami membubuhkan tandatangan di draft tesis sedemikian sehingga kami bisa sidang.

Itulah hadiah terindah di awal tahun ini. Dan liburan akhir tahun terriweuh sepanjang hidup. Halah.

*bersambung ke bagian dua, kalau sempat*

Ada komentar?

%d bloggers like this: