Gotham van Java*

gotham
JUMAT malam sekitar jam 11, setelah ikut diskusi sama penulis tenar di Jalan Gempol, saya pulang ke rumah yang jaraknya sekitar 20 km. Seperti biasa, lewat Jalan Riau dan belok di perempatan Jalan Merdeka. Dan di sana, suasananya sangat sepi.

***

Waktu masih kuliah dan sedang berjuang mengerjakan tesis sekitar 1-2 tahun lalu, saya terpaksa sering tidur di kampus. Niatnya agar bisa segera lulus dan terhindar dari bayar SPP yang mahal itu. Maka kami tidur di laboratorium yang terletak di lantai dasar Labtek VIII. Bersama beberapa teman, kami menjajah lab tersebut dan mengubahnya seperti tempat kos :D.

Biasanya, saya baru sampai ke lab sekitar jam 12 malam, langsung dari kantor yang saat itu masih di Jalan Buahbatu. Meski sudah larut dan menjelang tengah malam, saya terpaksa menerobos jalanan kota Bandung. Alhamdulillah, saya belum pernah berpapasan sama geng motor dan kawan sebangsanya. Padahal harus melewati beberapa jalan yang sepi dan gelap, seperti Jalan Sunda dan Aceh.

Sampai Jalan Ganesha, beberapa kali tak langsung masuk ke kampus, tapi mampir dulu di tukang roti bakar di dekat pertigaan Ganesha-Dago. Seberang RS Borromeus. Siang hari, trotoar itu biasanya ditempati tukang tambal ban. Tapi menjelang malam, diganti sama tukang roti.

Tak hanya menjual roti bakar keju, di tempat itu pun menjual berbagai macam makanan, termasuk mi rebus. Minuman juga ada, tentu saja.

Di malam yang dingin, menikmati roti bakar atau mi rebus dan ditemani teh manis panas lumayan menghangatkan badan. Apalagi suasananya nyaman, karena lalu lintas Jalan Dago yang biasanya macet, waktu tengah malam cukup sepi. Kadang hanya ada angkot atau motor yang ngebut.

Walau tengah malam, kios si bapak tukang roti biasanya masih cukup ramai. Kebanyakan mahasiswa yang biasa tidur di kampus, sebagian lagi orang yang memang suka begadang dan cari makanan malam-malam.

Kadang, saya datang ke sana nggak sendirian. Ketika suntuk dan lapar, teman saya yang orang Manado, Ayash Senior, biasanya mengajak kami ke kios kaki lima itu untuk makan. Dan mengobrol, bahkan sampai jam 2 kurang.

Ketika kantor pindah ke kawasan Pasteur (dan saya masih belum lulus juga dari kampus gajah), saya mencari tempat baru untuk mengisi perut malam-malam. Salah satunya angkringan yang buka lapak tepat di depan gerbang kampus. Dengan harga yang relatif murah, tak heran angkringan ini cukup ramai dikunjungi mahasiswa berkantong cekak seperti saya. Bahkan ketika jam sudah menunjukkan jam 12 lebih.

Sebagian duduk di bangku panjang dan ditemani alunan musik tak jelas dari radio, sebagian lagi memilih lesehan di trotoar depan taman Salman. Meski sudah tengah malam, suasananya nyaman. Dan tentu saja aman. Setidaknya saat saya beberapa kali makan di sana belum pernah kejadian lihat orang ribut atau ada geng motor lewat.

Tapi itu dulu, ketika negara api belum menyerang. Kini, suasananya sudah berubah. Setidaknya dari status beberapa teman (dan temannya teman) di facebook atau twitter.

(Kota) Bandung sekarang adalah Bandung yang mencekam. Setidaknya dibuat seolah-olah mencekam. Dan semua orang, tak peduli siapa- diminta untuk segera pulang ketika menjelang tengah malam.

Ya, imbas dari imbauan pembatasan jam operasional tempat hiburan itu ternyata cukup luas juga. Padahal saya mendukung tempat hiburan macam diskotik atau karaoke++ dll (IYKWIM) tutup jam 12 malam.

Tapi kini, orang nongkrong di luar pun mulai disuruh pulang. Termasuk yang sedang makan di angkringan, seperti kata status salah seorang temannya teman, yang katanya mereka terpaksa bubar, padahal cuma makan di angkringan.

Dan imbas lainnya pun mulai terasa. Setidaknya bagi saya yang biasa pulang malam. Jika biasanya jam 10-11 malam jalanan kota Bandung masih ramai, kini mulai berangsur sepi. Terutama kawasan dekat tempat hiburan atau kawasan jajanan malam. Seperti di Jalan Gardujati. Malah jadi serem :|.

Dan terbaru, saya baru tahu kawasan Merdeka pun sangat sepi ketika memasuki tengah malam. Padahal biasanya tempat ini masih cukup ramai meski masuk pergantian hari. Setidaknya, masih ada banyak sopir taksi yang mangkal. Atau PKL. Tapi kan sekarang PKL sudah pada pindah ke basement. Jadinya, makin sepi saja.

Benarkah Bandung memang sudah tak aman lagi sehingga orang disarankan untuk tidak beraktivitas di tengah malam? Benarkah Bandung sudah seperti Gotham, seperti kata mamang Zen? Kalau iya, selamat datang di Gotham van Java.

*) Kata Gotham van Java pertama kali saya baca dari twitternya @officialpvc yang diretweet mang @mengbal. Begitu.

**) Sudah jam 23.59, saatnya anda, orang kota, untuk masuk rumah, kalau tak mau kena jam malam. Makanya, mending jadi warga Obarland saja, kawan :))

Ada komentar?

%d bloggers like this: