Ini cara plagiat yang baik dan benar

LIMA++ tahun bekerja di bidang kepenulisan dan 3 tahun terakhir mengedit tulisan orang membuat saya tahu karakter tulisan teman-teman yang saya edit. Ada yang tulisannya lebih bagus dari saya, ada yang salah tanda saja, dan ada yang tulisannya harus dibina. Atau dibinasakan *eh.

Saya akui tulisan saya memang masih standar, masih rata-rata. Apalagi setelah hanya duduk di kantor, saya sudah jarang sekali nulis. Termasuk nulis di blog ini :D. Tapi saya punya kelebihan *halah narsis*.

Saya cukup teliti membaca tulisan orang lain. Entah kalau tulisan pribadi. Jadi jangan protes kalau saya agak lama ngedit tulisan orang lain, karena butuh waktu untuk membaca semuanya. *padahal itu cuma alasan saja*.

Akibatnya, ketika setiap hari membaca tulisan teman-teman saya yang liputan di lapangan, saya jadi tahu karakter tulisan mereka. Setidaknya sebagian karakter yang hampir selalu muncul dalam tulisannya. Seperti ada teman yang menggunakan dua tanda kutip tunggal (‘) untuk menulis tanda kutip ganda (“). Mungkin ini sepele, tapi suka saya edit hehe.

Ada juga yang suka menulis ‘n’ dobel di kata berakhiranyang ada akhiran ‘nya’ , seperti ‘makannya’. Atau yang suka terbalik antara ‘di’ sebagai imbuhan (yang disatukan seperti kata disatukan) dan ‘di’ yang menunjukkan tempat yang seharusnya dipisah. Ada juga yang suka lupa kasih spasi di antara tanda baca.

Nah… karena hampir setiap hari membaca tulisan teman-teman sedemikian sehingga hapal karakternya, akan jadi aneh ketika tiba-tiba ada kiriman tulisan dari si A misalnya, tapi karakternya berbeda. Terutama ketika tulisan yang biasanya agak-sulit-dibaca-sehingga-ingin-ctrl-A-lalu-delete-dan-ctrl-S lalu tiba-tiba tulisannya sangat bagus sekali atau kesalahannya kecil.

Untunglah ada google yang maha tahu. Biasanya ketika baca tulisan seperti ini, saya masukkan satu paragraf penuh ke google, dan biarkan paman google mencari tulisan yang mirip. Hwalaaa.. keluarlah hasilnya.

Jadi, tips supaya tak mudah dideteksi google dan tetap mau plagiat dari orang lain, ada caranya, yakni ditulis ulang hehe.. *pengalaman*. Eh jangan ketang. Lebih baik menulis dengan caramu sendiri. *sokbijak.

3 Thoughts.

  1. Hahahah. Jadi ingat dulu diceritain Teh Reni. Kata dia, di kantornya ada redaktur yang pinter banget ngeliat mana tulisan cc-an ama yang bukan. Nasib buruk bagi reporter #eh.

Ada komentar?

%d bloggers like this: