Tahan sebentar jarimu

Jumat 4 November kemarin sepertinya menjadi hari yang cukup bersejarah di Indonesia. Puluhan (atau ratusan?) ribu orang tumpah ke jalanan ibu kota untuk ikut aksi demonstrasi. Tapi bukan itu yang mau saya tulis di kesempatan yang berbahagia kali ini.

Seperti halnya saat ada peristiwa yang menghebohkan jagad dunia nyata di Indonesia, jagad dunia maya pun tak kalah hebohnya. Saya tak tahu bagaimana situasi di dunia burung atau buku muka. Yang pasti ramainya takkan kalah dengan keramaian saat pemilu lalu. Saya terlalu malas untuk memantau lini massa.

Keramaian pun merambah dunia perpesanan yang sedang ngetren: grup whatsapp dan juga telegram. Hampir semua grup WA maupun telegram yang saya ikuti turut membahas demonstrasi itu. Ada yang cukup serius, ada yang dibahas sisi lainnya, ada juga yang cuma selewat.

Nah di antara keramaian di dunia grup perpesanan itu, mulai berseliweranlah pesan-pesan berantai yang entah siapa ujung mulanya dari siapa. Dari grup A dikirim ke grup B, lalu disambungkan ke grup C, dan seterusnya.

Sayangnya, tidak semua pesan itu valid. Banyak informasi yang betebaran itu kebenarannya masih sumir. Lebih sedihnya lagi, proses verifikasi pun sulit karena tak tahu itu awal pesannya dari siapa?

Kabar hoax pun bertebaran. Bikin penuh memori, sedot kuota internet, dan bikin hati panas sepanas ketika tahu kabar dirinya sudah bersama yang lain.

Dan sedihnya, banyak kabar hoax itu yang langsung dipercaya mentah-mentah tanpa lebih dulu diverifikasi. Kabar klarifikasi pun (kalau ada) tak cukup menjangkau daya jelajah pesan hoax sebelumnya. Lebih sedihnya lagi, yang mengirimkan pesan diduga hoax itu adalah orang yang cukup terpelajar. Ketika dikejar dengan klarifikasi, tak ada tanggapan. Kan jadi sedih. Sudah capek-capek googling kok tak ada tanggapan. hiks.

Jadi saudara-saudara semuanya, dalam kesempatan yang berbahagia ini, marilah kita tahan sedikit jarimu untuk tidak terlalu mudah menekan tombol share atau berbagi. Tahan sebentar untuk memikirkan kembali fakta-fakta yang ada di pesan itu. Apakah memang benar fakta atau masih diduga fakta? Siapa penulisnya? Kalau itu katanya tulisan ahli, apa benar orang itu eksis di dunia nyata? Jangan-jangan cuma asal kutip saja?

Begitulah saudara-saudara. Semoga dengan cara tersebut, persebaran berita diduga hoax itu bisa agak direm. Setidaknya berita itu hanya berhenti di ponsel kamu.

*turun dari mimbar sambil benerin sorban*

2 Thoughts.

  1. Jaman awal kuliah dulu aku pernah percaya cerita tentang anak yang mati setelah makan kangkung di restoran (kangkungnya ada lintah apakah2 yang masih hidup :v). Tapi untungnya aku punya teman2 yang aware masalah “fakta vs hoax”, jadi hidupku terselamatkan, wkwkwk. Jadi kalo mau positive thinking, orang2 yang gampang share info yang belum jelas kebenarannya itu mungkin orang2 yang kurang “jam terbang” di dunia maya atau gak punya teman2 yang bisa mencerahkan bahwa gak semua yang mereka baca itu bener.

    Btw, orang yang klo diklarifikasi tapi not responding itu menurutku masih lebih mending daripada yang klo diklarifikasi malah membalas dengan statement sejenis “itu mah bisa2nya dia aja”. Tapi ya sudahlah, yang penting kan sudah menyampaikan apa yang kita tau. Pada akhirnya kan orang hanya akan percaya pada apa yang ingin mereka percayai.

    Someday aku pingin ngepost tentang hal ini deh. *but someday.. when? :v

    • ((SOMEDAY))
      #awalwacana banget mb ???.
      Itu yg saya klarifikasi juga agak2 denial sih. Tapi ya sudahlah ???

Ada komentar?

%d bloggers like this: