Jarambah

Lebaran sudah berlalu. Lemak-lemak hasil makan opor dan kawan-kawannya sudah menumpuk. Itulah saatnya untuk kembali berolahraga lagi demi agar si lemak sedikit terbakar sedemikian sehingga perut tidak terlalu kelihatan majunya. Mari kita bersepeda lagi, kawan.

Sebenarnya banyak olahraga yang bisa dipilih. Bisa lari, futsal, atau mungkin berenang. Tapi saya lebih suka bersepeda, tepatnya bersepeda sendirian. Alasannya banyak, yang pasti karena saya sudah mahal-mahal beli sepeda, 5 tahun lalu. Masak sudah dibeli tapi jarang dipakai? Selain itu, kalau lari males, futsal fisiknya kedodoran, dan berenang saya tak bisa. Jadi mending gowes.

Oke, kembali nulis agak serius. Jadi pada H+2 dan H+3 saya kembali menggenjot sadel sepeda menyusuri jalan tiada arah. halah. Di hari pertama, awalnya saya mau sepedahan ke daerah Baleendah atau pameungpeuk. Tapi ketika sudah masuk jalan besar, rasanya malas berlomba dengan motor dan mobil yang mulai banyak melintas. Polusi pun cukup mengganggu. Akhirnya di daerah Asem saya belok kiri dan mulai jarambah.

Apa itu jarambah? Saya lupa arti sebenarnya, tapi bisa disebut main jauh tanpa mengenal waktu (atau jarak). Biasanya kata ini keluar saat kita pulang main lalu dimarahi ibu. “Ulin teh meni jarambah, sateehh!” mungkin begitu bahasanya. Tapi kalau pakai bahasa kekinian nan gaul, bisa juga disebut flaneur. Mungkin ya.

Ada asyiknya jarambah dengan sepeda sendirian. Dengan sepeda, jarak tempuh main kita bisa lebih jauh dibanding jalan kaki. Dengan sendirian, saya tak perlu malu untuk berhenti ketika capek. Juga tak perlu khawatir ketinggalan oleh teman lainnya.

Begitu pun pada selasa kemarin, saya sepedahan dengan tanpa arah tujuan pasti. Bahkan beberapa kali saya coba ambil jalan yang belum pernah ditempuh. Hasilnya luar biasa, ternyata banyak daerah di Kabupaten Bandung yang belum pernah saya jelajahi. Pemandangannya pun keren, melewati sawah yang mulai dipanen, pinggir sungai yang sunyi, dan kampung-kampung yang tak ada angkutan umum selain ojeg. Hanya saja di beberapa tempat yang agak sepi suka menjadi wadah sampah raksasa. Tuman.

Pada jarambah edisi perdana itu, tujuan saya cuma satu, yaitu menyusuri jalan hingga ketemu jalan Soreang-Banjaran. Jalur yang dipilih pun tergantung mood. Mau kiri, tinggal belok kiri. Mau belok kanan ya tinggal belok. Dan tahu-tahu saya ternyata sudah sampai di pinggir Citarum, tepatnya di daerah Kecamatan Cangkuang. Dari sini saya mulai buka google maps supaya tidak terlalu jauh nyasarnya, sekalian cari jalan pulang.

Saya baru tahu bahwa di beberapa kawasan pinggir Citarum kini dibangun semacam taman atau tempat nongkrong. Di beberapa tempat disediakan meja dan tempat duduk dari semen yang cukup teduh.

Tapi berkat budaya masyarakat kabupaten yang punya tempat sampah raksasa, sebagian (besar) taman yang sebenarnya menarik itu banyak dipenuhi sampah. Sebagian sampah itu lalu dibakar seenaknya sedemikian sehingga menyebabkan banyak asap yang cukup mengganggu ketika saya beristirahat di salah satu bangku. Sementara di sebagian tempat lainnya jadi tempat jemur pakaian. Luar biasa.

Ok, hari kedua ternyata saya masih mood untuk gowes. Kali ini rutenya berbeda, karena menanjak dan bukan benar-benar jarambah. Awalnya tempat yang dituju adalah Gunung Puntang, karena sudah lama saya tidak sepedahan ke sana. Tapi, ketika sedang istirahat di pertigaan Gunung Puntang dan melihat jalan yang menanjak, akhirnya tujuan berubah, yakni ke Cikalong saja karena jalannya masih relatif landai.

Ternyata setelah sampai Cikalong, iseng-iseng ingin coba lagi jajal ke Pangalengan. Sambil istirahat di poskamling, saya iseng hitung jarak dari Cikalong ke Pangalengan. Wah ternyata cukup pendek, cuma 11-an kilometer. Artinya sekitar jarak antara Banjaran Soreang.

Karena masih jam 9-an, akhirnya saya nekat untuk coba jajal trek Pangalengan. Dan ternyata benar, jaraknya sih pendek, tapi jalurnya banyak yang curam untuk ukuran sepeda. Tak jarang saya jadi anggota Matador alias manggih tanjakan dorong. Istirahat pun mungkin sampai belasan kali. Bahkan beberapa kali saya disusul sama pesepeda lain yang kalau dilihat dari umurnya sepertinya sudah bapak-bapak berincu.

Sambil istirahat, beberapa kali kepikiran untuk pulang saja. Tapi ketika melihat peta, jaraknya ternyata cuma sedikit lagi. Maka meski kaki sudah pegal, saya paksakan menggenjot sadel meski menggunakan gigi paling ringan.

Alhamdulillah, sekitar jam 10.25 saya tiba di Pangalengan, tepatnya di bundaran pertigaan dekat Puskesmas Pangalengan. Lumayan juga, berangkat sekitar jam setengah 7, tiba di pertigaan sekitar jam setengah 11. Kalau lihat catatan Strava, waktu tempuh bersih dari rumah sampai Pangalengan adalah 3 jam 4 menit sekian detik, dengan jarak tempuh 24,3 kilometer. Lumayan.

Setelah beristirahat sekitar 20 menit di tukang bubur, tadinya saya mau lanjut ke Situ Cileunca. Dilihat dari peta Google maps, jaraknya cuma 5 kilometer. Maka sekitar jam 11 dengan matahari yang sudah terik saya coba jajal Cileunca. Awalnya sih enak, karena dari pertigaan itu menurun. Tapi sekitar 1,5 kilometer menjelang Cileunca, ternyata jalannya kembali terjal.

Beberapa kali istirahat dan menuntun sepeda, tapi kok nanjak terus ya? Kepala pun mulai pusing setiap genjot sepeda di tanjakan. Juga ketika jadi matador, badan sudah mulai sangat kepayahan. Akhirnya meski jaraknya tinggal sekitar 1 kilometer lagi, saya putuskan pulang saja. Daripada pingsan di jalan kan bahaya. Apalagi tak ada teman yang bisa diminta pertolongan. halah.

Pas pulang pun, ketika kembali menjajal jalan menanjak dekat pertigaan puskesmas, badan sudah benar-benar capek. Untunglah tanjakannya tak terlalu curam sehingga meski sering istirahat, akhirnya sampai juga di pertigaan. Alhamdulillah. Dari situ, jalan sudah bersahabat, karena mulai dari Pangalengan hingga Bugel, dipastikan saya tak perlu banyak gowes. Inilah enaknya sepedahan ke pegunungan, pulangnya tak perlu banyak keluar tenaga :D.

Ya begitulah cerita jarambah saya di hari libur lebaran tahun ini. Salam gowes dan nikmati pegelnya badan efek olahraga :D.

1 Thought.

Ada komentar?

%d bloggers like this: