Dear Sir, I am an architect

“Dear Sir, I am an architect, but not an ordinary one”

Kalimat itu ditulis Friedrich Silaban, salah satu arsitek legendaris Indonesia, pada tahun 1967-an. Kalimat itu merupakan pembuka dari surat yang ditulis Silaban dan ditujukan kepada salah satu koleganya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Saat itu, Silaban yang dikenal cukup dekat dengan Presiden Soekarno mulai khawatir dengan perkembangan situasi di Indonesia setelah peristiwa G30S dan berujung pada pergantian rezim. Karena itulah dia mencoba mencari pekerjaan lain di luar Indonesia, salah satunya dengan mengirimkan lamaran ke PBB yang bermarkas di New York. Surat lamaran sebanyak 6 lembar itu ditujukan kepada Alvaro Ortega. Dia adalah salah satu profesor di Universitas Harvard dan sekaligus penasihat Center for Housing, Building and PBB. (Ada kemungkinan surat tersebut tidak jadi dikirimkan, namun diganti dengan surat lain yang lebih pendek dan informal).

Silaban memang wajar cemas. Sebagai salah satu arsitek yang cukup dekat dengan Soekarno, ditambah dengan perilaku rezim Soeharto terhadap orang-orang yang disebut dekat dengan Soekarno, Silaban khawatir hal itu akan berpengaruh terhadap kariernya. Apalagi Silaban punya banyak anak yang harus dinafkahi, sementara sejak peristiwa September 1965, dia tak lagi mempunyai pekerjaan tetap. Meski pada akhirnya, lamaran tersebut ditolak karena saat itu tidak ada lowongan yang pas untuk Silaban.

Meski bukan politikus, Silaban memang dikenal cukup dekat dengan Soekarno. Bahkan banyak karya monumentalnya yang dirancang pada saat Soekarno masih berkuasa. Sepanjang 1957-1965, dia menangani banyak proyek bangunan di Indonesia. Salah satu karyanya adalah Monumen Nasional alias Monas.

“Kedekatan Silaban dengan Soekarno karena profesional, sebagai arsitek,” ujar Setiadi Sopandi, arsitek yang juga kurator pada pameran “Friedrich Silaban, Arsitek 1912-1984” yang digelar di Galeri Nasional Jakarta, Selasa, 7 November 2017 lalu. Di dalam pameran tersebut ditampilkan sejumlah dokumen yang berhubungan dengan Silaban, dan beberapa rancangan desainnya.

Untuk urusan perancangan Monas, kata Setiadi, dilakukan secara informal. Silaban yang dinyatakan sebagai pemenang sayembara pertama perancangan Monas, ternyata rancangan tersebut tidak juga dibangun hingga beberapa tahun kemudian. “Padahal sepanjang tahun 1958-1965 hampir setiap pagi dia datang ke istana membawa gambar,” tambah Setiadi. Pada sayembara kedua yang digelar pada 1960, malah tidak ada pemenangnya.

Menurut Setiadi, karya Silaban masih dianggap lebih baik dibanding karya seluruh peserta sayembara kedua. Akhirnya Soekarno meminta Silaban mengubah desain rancangannya karena dinilai terlalu besar sehingga membutuhkan biaya cukup besar. Tapi Silaban menolak. Namun akhirnya, proyek tersebut jadi dibuat setelah Silaban dan R. M. Soedarsono berkolaborasi.

Selain Monas, nama Silaban pun tak bisa dilepaskan dari masjid Istiqlal. Ya, dialah arsitek yang merancang masjid yang disebut-sebut (sempat?) menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Proyek itu pun bisa jadi merupakan proyek terlama yang ditangani Silaban. Bayangkan, selama 24 tahun Silaban mengawal proyek megah itu agar benar-benar terwujud, dari awal perancangan hingga diresmikan dan digunakan untuk khalayak.

Dalam prosesnya, proyek Istiqlal memang tidak selalu berjalan mulus, apalagi dengan adanya pergolakan politik pasca-G30S. Bahkan sejak Silaban dinyatakan sebagai pemenang sayembara (dengan desain masjid bersandi Ketuhanan) pada 1955, tidak ada perkembangan berarti selama 4 tahun pertama. Silaban pun harus membuat surat terbuka yang mempertanyakan kelanjutan proyek tersebut. Hingga akhirnya pada 1961, pekerjaan tersebut dimulai, tepatnya pada 24 Agustus 1961 oleh Soekarno, bertepatan dengan Maulid Nabi.

Selain menjadi proyek masjid terluas se-Asia Tenggara, proyek Istiqlal pun disebut Setiadi mendorong perkembangan industri lain yang produknya digunakan dalam pembangunan masjid. Salah satunya industri marmer di Indonesia. Silaban mengatakan, proyek tersebut membutuhkan sangat banyak marmer berukuran besar, sehingga membuat industri itu menjadi berkembang.

Singkat cerita, setelah melalui banyak cobaan, tujuh belas tahun kemudian proyek tersebut selesai dibangun dan diresmikan oleh Soeharto pada 22 Februari 1978, 6 tahun sebelum Silaban wafat.

* * *

Menghadiri pembukaan pameran Silaban sebenarnya tanpa rencana. Saya mengikuti acara pembukaan itu karena ‘kebetulan’, sambil menunggu waktu kereta Parahyangan yang dijadwalkan berangkat pukul 20.00. Tadinya mau coba masuk ke kawasan Monas, tapi ternyata gerbang yang dari stasiun Gambir ditutup. Daripada harus jalan lagi ke gerbang depan, saya memilih belok ke Galeri Nasional yang jaraknya lebih dekat. Meski saat itu saya tidak tahu apakah di sana ada pameran atau tidak (dan saya pun terlalu malas untuk browsing di situsnya).

Jam 16.05 saya tiba di gerbang masuk galeri. Seorang satpam mengatakan bahwa sebenarnya galeri sudah tutup, namun dia mengatakan bahwa di dalam sedang ada pameran, yang biasanya dibuka sampai malam. “Masuk saja ke dalam,” kata dia. Dalam sebelah mana?

Gedung Galeri Nasional itu ternyata cukup luas, dan saya tidak tahu pameran itu digelar di mana, sampai tiba-tiba ada dua perempuan yang menyapa.

“Mas wartawan, bukan?” tanya perempuan yang ternyata panitia pameran. Saat itu saya memang pakai sweater yang sering dipakai saat masih jadi wartawan. Sweater warna merah marun bertuliskan kata ‘deadline’ di bagian depan. Ya sejak pindah pekerjaan, penampilan saya memang tidak banyak berubah seperti masih suka ke lapangan. Masih kucel.

Setelah tahu ternyata saya bukan wartawan yang akan meliput pembukaan pameran (yang kemudian saya tahu pameran tentang Friedrich Silaban), mbak-mbak panitia itu tetap ramah dan malah mempersilakan saya untuk mengikuti tur pembukaan pameran yang dipandu oleh mas Setiadi Sopandi.

Tawaran itu pun tak saya sia-siakan. Setelah mengisi daftar hadir, saya langsung masuk ke gedung pameran yang letaknya ternyata di seberang meja panitia. Di dalam, Setiadi sedang asyik menjelaskan pernak-pernik mengenai kehidupan Silaban dan karya besarnya.

Lalu, naluri sebagai wartawan pun kembali muncul….

Ah ternyata saya belum bisa benar-benar meninggalkan profesi ini. Profesi yang disebut teman saya sebagai lubang hitam kebudayaan.

Ada komentar?

%d bloggers like this: