Foto-foto narsis di Cukul

Pemandangan dari atas bukit

Kawasan Bandung selatan yang relatif masih asri seringkali menjadi magnet para pelancong, terutama pelancong yang suka narsis di Instagram. Mereka seringkali memamerkan betapa indahnya pemandangan di kawasan Bandung selatan. Seperti di Ciwidey atau Pangalengan. Salah satu tempat yang kini sedang ngehits adalah Cukul. Di manakah tempat wisata ini berada?

Sebagai warga Bandung selatan-yang-tidak-terlalu-selatan, sebenarnya saya tak tahu banyak kawasan wisata apa saja yang biasa didatangi para wisatawan pemburu foto epic instagram. Ya maklumlah, jarang piknik karena jarang libur.

Nah, salah satu objek wisata yang katanya sedang hits itu adalah Cukul yang terletak di Kecamatan Pangalengan. Tempat ini saya ketahui dari *ehem si dia. Belakangan seorang teman main ke daerah sana dan banyak unggah foto-foto pemandangan di sana. Sejak saat itu, kami pun membulatkan tekad untuk segera mendatangi tempat tersebut.

Percobaan pertama pada hari Ahad, 11 Februari 2018 kemarin. Pagi itu cuaca di Banjaran cukup cerah sehingga sekitar jam 10 saya pun pergi ke Pangalengan. Sayangnya, ketika kami berangkat ke lokasi sekitar jam 11 siang, cuaca berubah tidak bersahabat sehingga kami terpaksa berhenti di objek wisata Situ Cileunca.

Percobaan kedua kami lakukan pada liburan imlek 16 Februari kemarin. Meski cuaca sepertinya kurang bersahabat, sekitar jam 10 pagi kami mulai berangkat naik motor menuju lokasi. Nekat sebenarnya, karena awan mendung mulai terlihat semakin banyak.

Bagi yang belum tahu, Cukul letaknya cukup jauh dari pusat kota Pangalengan. Seingat saya, waktu tempuh menuju lokasi memakan waktu hampir satu jam dengan kecepatan normal.

Saya memang tak bisa ngebut karena jalur menuju Cukul cukup banyak belokan naik turun tajam. Jalur khas di pegunungan. Meski begitu, jalannya lumayan mulus, jarang saya temui jalan yang berlubang. Selain itu, sejak dari daerah Cileunca, pemandangan sekitar lumayan cantik dan memikat mata. halah. Apalagi beberapa kilometer terakhir sebelum sampai, semakin jarang rumah penduduk di sisi jalan, sehingga pemandangan yang ada kalau tidak kebun teh, ya tebing terjal. Jadi tetap harus hati-hati.

Apalagi kalau kita berangkat ke lokasi malam hari atau sebelum subuh. Karena semakin jauh dari Cileunca, semakin sedikit lampu jalan raya. Lampu yang ada pun belum tentu menyala. Ditambah jalan yang berkelok-kelok aduhai plus naik turun, skill Valentino Rossi atau Hamilton mutlak dikuasai. Jadi, sekali lagi, berhati-hatilah.

Lokasi objek wisata Cukul sebenarnya tidak terlalu jelas, tidak merujuk ke satu tempat tertentu, tapi sebuah kawasan yang cukup luas. Setidaknya bagi saya yang baru sekali ke sana. Karena kita bisa temukan beberapa spot untuk foto-foto ala seleb instagram di sepanjang kawasan itu. Meski begitu, ada salah satu tempat yang biasanya menjadi destinasi para pelancong, terutama yang ingin menyaksikan matahari terbit.

Lokasinya ada di puncak bukit, menurut track foto google letaknya di sini: -7.233, 107.535. Patokannya di sebelah kiri ada warung dan di kanan ada semacam sungai atau balong. Dari sana kita belok kanan. Untuk mencapai lokasi tersebut, kita harus melewati jalan kecil yang belum diaspal, masih berupa batu-batu besar. Jalan ini hanya cukup untuk satu mobil. Saya yang menggunakan motor Beat Street cukup kesulitan ketika melewati jalur yang cukup berlumpur ini, apalagi jika kita bawa teman yang dibonceng.

Pemandangan

Saya tiba di lokasi sekitar jam 11 lebih, dan alhamdulillah cuaca cerah sangat mendukung untuk memuaskan ego kami berfoto-foto. Tidak ada tempat parkir khusus di lokasi ini. Namun nanti ada pengelola parkir (yang sepertinya orang lokal situ) yang akan membantu memarkirkan motor di pinggir kebun teh. Tarifnya tidak jelas, tapi kemarin saya bayar (pas pulang) sebesar 5 ribu rupiah. Entah berapa tarif resminya.

Menuju parkiran

Setelah itu, pengunjung akan diarahkan untuk ke semacam pos yang dijaga oleh dua orang. Di sini kita harus bayar tiket, harganya 5 ribu rupiah per orang. Posnya sederhana, seperti pos siskamling biasa, dan tidak ada tiket resmi. Dari situ, mulailah terlihat jalur berkelok-kelok di bawah dan hamparan kebun teh yang luas.

Ada beberapa spot foto yang sudah disediakan pengelola demi memuaskan dahaga para pencandu media sosial. Pengunjung bisa berfoto di hammock, di atas pohon, atau di panggung berbentuk lope-lope. Juga ada dua tempat lain semacam balkon. Jadi, siapkan kamera terbaikmu untuk mendapatkan angle terbaik, lalu berfotolah sepuasnya, karena tidak ada batasan berapa lama kita bisa berfoto di tempat tersebut.

Selain spot foto, ada juga beberapa warung yang sepertinya dikelola penduduk sekitar. Letaknya agak di atas, di pinggir kebun. Saya tidak tahu harga makanan atau minuman yang dijual, apakah sama dengan warung kebanyakan atau sudah dimark-up.

Selain tempat foto, ada apa lagi di Cukul? Di tempat ini, ya cuma spot foto saja sih. Lokasinya pun cukup terbatas, karena letaknya yang di puncak perkebunan teh. Jadi jika ingin berfoto di lokasi lope-lope, ya harus sabar antre kalau sedang penuh.

Oh iya, menurut Aa penjaga parkir, kawasan itu biasanya ramai di pagi hari, terutama menjelang matahari terbit. Jumlah pengunjung semakin membengkak jika memasuki akhir pekan. Jadi, bagi anda yang mau datang ke sini saat akhir pekan, apalagi pagi-pagi, siap-siap saja berdesakan.

Tertarik main ke sini?

3 Thoughts.

  1. Cukul kan yang ada bangunan terus tulisanannya “Tjoekoel” itu bukan sih? Ya udah lah..

    Btw.. ini gak dilihatin mukanya nih? Pengen sok sok misterius banget

    • Ga tau, ga liat euy hahaha.. Jarang ada bangunan soalnya. Paling warung doang.
      Sengaja om. Biar surprise wkwk

  2. Subhanallaah, indah sekali.. Betapa eloknya bumi ciptaan Allah.. Apalagi di surga ya.. Semoga kita selamat masuk ke surga-Nya.. Aamiin..

Ada komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: