Belanja brokoli seharga setengah juta

Menyambut hari Mayday 2019 yang merupakan Lebaran para buruh, saya rayakan dengan belanja ke sebuah pasaraya di sebuah mal di Kota Bandung, tepatnya di daerah Soekarno-Hatta. Sekalian test drive bonceng bayi pakai motor, apakah bisa atau tidak. Ya, di hari buruh, saya tidak ikutan demo seperti teman-teman yang lain.

Selepas Dzuhur, saya dan istri dan bayi yang tak baru-baru amat lahir berangkat dari kontrakan menggunakan motor Beat. Tujuannya Superindo yang letaknya persis di seberang jalan daerah kontrakan kami.

Tapi di perjalanan, tujuan berubah ke pasaraya di mal berinisial M karena melihat cuaca mulai mendung dan mungkin akan hujan. Mengingat parkir Superindo di luar ruangan sementara parkir motor mal M ada atapnya, kami putuskan belanja di sana. Sekalian jalan-jalan.

Pasaraya berinisial H itu terletak di lantai paling bawah mal. Ruangannya lumayan luas dan barang yang dijual pun lumayan lengkap. Tak kalah dengan Borma.

Kami pun langsung ambil keranjang belanja dan mulai berburu belanjaan. Mengingat sebentar lagi Ramadan, kami pun mencari bahan makanan yang kira-kira bisa dimasak cepat jika kesiangan bangun untuk sahur. Ya, beli Indomie dan kawan-kawannya. Juga sayuran seperti kangkung dan brokoli untuk dimasak nanti malam.

Setelah sekitar setengah jam dan keranjang belanjaan sudah mulai penuh, kami pun pergi ke kasir untuk bayar belanjaan. Teteh kasir pun memindai satu-persatu belanjaan kami. Mulai dari ikan, bangku, telur, popok, hingga sayuran. Setelah semua beres dipindai, layar di monitor kecil dekat teteh kasir menunjukkan total harga sebesar Rp790 ribu sekian.

Saya dan istri kaget. Biasanya, belanja bulanan kami seringkali tidak lebih dari 200-300 ribu. Sementara perasaan kami, belanjaan hari ini tidak lebih banyak dibandingkan belanjaan bulanan seperti sebelumnya. Apakah bangku pendek yang kami beli harganya mahal? Atau popok bayi? Meski begitu, segera saya keluarkan kartu ATM BCA yang barusan saya isi sekitar Rp1 juta dari rekening Jenius.

Beres bayar, di luar area kasir saya lihat struk belanjaan karena penasaran. Barang apa yang bikin belanjaan kali ini sangat mahal? Lalu di struk paling atas ada barang berkode DF Delli yang harganya fantastis: Rp558 ribu sekian. Wow, barang apa ini? Sementara bangku yang kami beli ternyata harganya betul, hanya Rp49 ribu sekian.

Karena tak merasa beli barang mahal itu, saya pun tanya ke salah satu petugas kasir. Lalu dia pun memeriksa satu-persatu barang yang saya beli, dan ikutan heran karena tidak ada barang yang dimaksud.

“Mungkin scannernya error, pak. Memang kadang suka gitu,” ujar Aa kasir.

Dia lalu meminta saya datang ke bagian customer service. Di sini, barang belanjaan kami dikeluarkan satu-persatu. Hasilnya: barang DF Delli tidak ada. Malah salah satu belanjaan kami, brokoli, belum dipindai. Harganya tentu saja bukan setengah juta, tapi cuma Rp14 ribu saja. Setelah dipindai ulang, teteh penjaga CS lalu mengembalikan uang kelebihan setelah dikurangi harga brokoli.

Alhamdulillah, uang setengah juta gagal melayang dari dompet.

Jadi, apakah hikmah dari tulisan tidak jelas ini? Janganlah anda boros dalam belanja. Dan yang terpenting, telitilah ketika melihat struk belanjaan anda. Siapa tahu ada barang yang tidak dibeli tapi dimasukkan ke dalam struk.

Untung yang ini harganya lumayan besar sehingga mudah dikenali. Coba bayangkan jika yang (tidak sengaja) dimasukkan itu harganya sekitar Rp50 ribu ke bawah, mungkin saya pun tidak akan sadar :D.

Ada komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: