Kembali ke Ubuntu karena tidak diridhoi pasang Windows


unsplash.com

Jangan lengah ketika sedang menginstal sistem operasi di laptopmu. Meskipun itu Windows yang katanya sangat mudah dipasang. Jika tidak, harddiskmu akan jadi korban kelengahanmu.

Alkisah, akhir tahun kemarin mulai kembali tergoda untuk memasang Windows. Kembali membangunkan sistem operasi yang sudah tidur lama di laptop ini. Tujuannya? Apalagi kalau bukan karena tergoda untuk bermain game di Steam.

Ya Windows memang sangat cocok untuk game, karena hanya sedikit game yang didukung oleh Linux di Steam, meski tiap tahun jumlahnya semakin meningkat. Tapi sayangnya, game-game yang populer kebanyakan tidak bisa dimainkan di Linux. Makanya, ketika memasuki akhir tahun 2021, mulai muncul keinginan untuk mencoba kembali Windows yang sudah 5 tahun tidak disentuh (karena salah format MBR harddisk).

Ok, setelah persiapan matang -unduh ISO windows, pasang di flashdisk pakai Ventoy- di liburan akhir tahun dimulailah proyek memasang Windows 10.

Lalu terjadilah bencana itu.

Karena sudah lama tidak ngoprek laptop (bahkan sekarang laptopnya sudah jarang dinyalakan karena seringnya pakai laptop kantor), saya lupa bahwa di lapto ptersebut ada 2 harddisk. Harddisk pertama masih HDD berkapasitas 500GB, bawaan dari laptop. Di sinilah OS Windows berada dan beberapa partisi linux lain. Tepatnya, partisi C dan D ada di harddisk ini. Sementara harddisk yang kedua sudah pakai SSD, dan dipasang di slot cdrom.

SSD berkapasitas 250GB ini dipakai untuk beberapa sistem operasi Linux, salah satunya openSUSE yang sudah saya pakai sejak September 2016. openSUSE menjadi sistem operasi yang biasa saya pakai sehari-hari, baik untuk kerja (saat di kantor sebelumnya), mengerjakan proyekan, maupun untuk main game macam City Skylines. Sementara beberapa OS lain cuma digunakan untuk keperluan proyekan. Selain sebagai tempat beberapa linux, di SSD ini pun saya buat partisi /home untuk semua linux yang saya pasang. Sehingga sistem operasi apapun yang saya pakai, homenya tidak berubah.

Kembali ke laptop. Setelah semua dirasa siap, saya lakukan booting ke Ventoy dari flashdisk. Di sana, tinggal pilih ISO Windows yang sudah saya unduh dan disalin ke flashdisk, lalu biarkan Ventoy bekerja.

Lalu tibalah pada menu pemilihan partisi harddisk. Dengan polosnya saya pilih partisi tempat openSUSE berada. Saya pikir partisi itu adalah partisi C di harddisk HDD, ternyata saya salah. Setelah dicek lagi, itu ternyata partisi openSUSE. Maka hilanglah semua data yang ada di partisi tersebut. Termasuk kenangan di dalamnya. Halah.

Peribahasa mengatakan, urang Sunda teu weleh untung. Ya, yang untunglah kehapus hanya partisi sistem operasi, bukan partisi /home. Yasudah, karena partisinya jadi kosong, dicobalah pasang Windows di sana.

Dan ternyata gagal. Coba lagi. Gagal lagi. Coba lagi. Gagal terus. Lalu coba pasang di partisi C HDD. Masih gagal. Coba lagi. Masih gagal. Coba lagi. Selalu gagal. Hmm sepertinya saya tidak diizinkan menggunakan Windows di laptop ini 🙁

Karena install Windows selalu gagal sementara laptopnya kini tidak bisa digunakan karena linuxnya hilang, akhirnya saya pasang Ubuntu di partisi bekas openSUSE. Alasannya simpel, karena saat itu ISO yang terbaru yang tersedia di laptop hanya Ubuntu. Sementara saya sudah lama tidak unduh ISO openSUSE, karena selama ini pakai versi yang tumbleweed alias rolling release.

Sekian curhat hari ini. Tabik.


Ada komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: