Balada kacamata

Ingin untung malah buntung. Ngarawu ku siku. Cul dogdog tinggal igel. Ingin berhemat malah dompet jebol. Peribahasa-peribahasa itulah sepertinya yang cocok disematkan kepada pria, yang untuk demi privasi kita sebut sebagai Tuan Anu. Hanya dalam waktu empat bulan saja, dia harus membeli tiga buah kacamata -yang harganya terus naik- karena awalnya ingin berhemat. Alhasil, uang tabungannya turun dengan drastis.

Begini ceritanya. Pada pertengahan tahun 2017 ini, tepatnya pada Ramadan lalu, di sekolah tempat dia mengajar digelar pemeriksaan mata gratis. Anu yang sudah hampir lima tahun tidak memeriksakan matanya ke dokter tentu saja senang. Apalagi kacamatanya yang dia beli dari kawasan Jalan ABC Kota Bandung sudah mulai aus, dengan lensa yang sudah banyak lecet di sana-sini.

Meski mendapat nomor antrean ke-99, dia tetap sabar. Singkat cerita, beberapa jam kemudian dia dipanggil oleh dokter mata dan divonis bahwa minusnya bertambah, jadi sekitar -6 ditambah silindris. Artinya, dia harus segera ganti lensa demi agar bisa melihat dunia lebih cerah lagi.

Beberapa hari kemudian dia pun mendatangi toko optik di sekitar rumahnya. Setelah agak lama memilih frame yang bagus, dipilihlah frame berbentuk kotak dengan ukuran lensa yang lebih luas. Mereknya Levi’s. Tentu saja ini merek kw alias abal-abal. Oleh petugas optik, kacamata baru itu dijanjikan selesai sebelum lebaran.

Long story short. Beberapa bulan kemudian, tepatnya sekitar akhir Agustus atau awal September, kacamata merek Levi’s abal-abal dengan lensa minus 6 itu tiba-tiba retak, lalu patah!

“Padahal kacamata itu belum pernah terinjak atau jatuh,” ujar Anu saat kami berbincang sepanjang perjalanan dari kantor ke rumahnya di kawasan Bandung selatan.

Sebagai langkah darurat, kacamata yang dibeli seharga sekitar Rp400 ribuan itu akhirnya dilem dengan lem superglue. Tapi sayang, bagian yang patah malah bertambah sehingga akhirnya lensanya lepas. “Sial,” gumam dia.

Karena sedang bokek, terpaksalah dia kembali mengelem bagian frame yang patah itu. Kali ini sekalian dengan lensanya, sehingga si lensa jadi menempel permanen ke framenya.

Karena mata adalah aset yang berharga, setelah gajian dia kembali berburu kacamata. Kali ini dia belinya di mall yang baru berdiri di kawasan Bojongsoang: Transmart Buahbatu alias Transmart Bojongsoang.

“Awalnya mau beli di Optik Melawai karena saya pernah lihat ada promo frame seharga Rp200 ribuan. Tapi pas ke sana ternyata untuk lensa lebih dari minus 5 harganya beda,” jelas Anu.

Akhirnya dia melihat ada toko optik kecil yang menggelar lapak di mal itu. Harganya pun murah: Rp150 ribu sudah termasuk frame. Setelah tanya-tanya ke teteh penjualnya, ternyata untuk frame yang agak bagus dan minus lensa yang besar harganya di atas 300 ribu rupiah. Setelah lama berpikir dan memilih beberapa frame, dipilihlah kacamata dengan frame agak bulat, desain yang agak kekinian dan belum pernah dia pakai selama belasan tahun pakai kacamata. Harganya?

“450 ribu,” ujar dia singkat. Kacamata merek Tom Ford (yang juga abal-abal) itu selesai seminggu kemudian.

Sudah selesai ceritanya? “Belum,” kata dia. Seminggu setelah dipakai, kacamata bulat yang kemudian diketahui lensanya tidak sesuai itu tiba-tiba retak patah. Luar biasa. Rekor frame Levi’s dikalahkan oleh Tom Ford!

Meski sebenarnya tidak digaransi oleh optik (“Si teteh penjual kacamata nggak mau garansi framenya, karena nggak ada jaminan kalau frame patah karena barang cacat atau kesalahan pemakai,” kata Anu), dia nekat datang kembali ke optik itu. Saat sedang diperiksa oleh si teteh penjual kacamata, tiba-tiba frame itu patah betulan. Patah jadi dua.

Setelah menunggu agak lama dan lapor ke temannya, diputuskan bahwa frame bakal diganti, namun waktunya agak lama. Apalagi ternyata tidak ada stok frame sejenis, sehingga Anu harus menunggu lebih lama agar kacamatanya selesai.

Kacamata pengganti itu selesai seminggu kemudian. Namun setelah dipakai beberapa lama, ternyata framenya kesempitan. Saat dipakai pun Anu merasakan pusing luar biasa. Dia pun terpaksa kembali memakai kacamata Levi’s yang sudah pecah itu sambil menunggu keajaiban siapa tahu dapat rezeki lebih buat beli kacamata lagi. Kali ini harus kacamata betulan.

Dan rezeki itu akhirnya datang juga. Mendapat uang agak lebih, dia pun kembali berburu kacamata betulan. Kacamata dengan lensa betulan dan frame betulan. Setelah tanya-tanya ke grup telegram dan beberapa kali googling, dia putuskan untuk coba beli frame dari Bridges Eyewear. Kebetulan tokonya ada di Bandung, tepatnya di kawasan Trans Studio Mal di kawasan Gatsu.

Tak tunggu lama, selepas kerja dia pun meluncur ke TSM. Tapi sayang beribu sayang, frame incarannya tidak tersedia di toko itu. Untuk pesan pun tak bisa langsung hari itu. Dengan kecewa, dia pun keluar dari gerai di lantai 2 itu dengan gontai sambil window Shopping di TSM. “Kapan lagi saya main ke situ,” ujar Anu.

Sebenarnya, di TSM ada beberapa gerai optik bermerek, salah satunya Optik Melawai. Namun saat lihat-lihat ke sana, tidak ada model yang dirasa cocok baginya. Selain trauma dengan harga murah frame.

Saat hendak pulang, dia terantuk dengan gerai kacamata yang berada di lantai GF. Namanya OWL. Modelnya kebanyakan kekinian. Sayangnya, harganya agak lumayan menguras kantong. Untuk frame saja, harga minimum sekitar Rp800 ribu. Belum dengan lensa. Tapi setelah beberapa kali keluar masuk optik, dia merasa model di OWL cukup banyak dan harganya masih agak masuk di anggaran (meski sebenarnya sudah lebih dari anggaran yang disediakan).

Setelah beberapa kali memilih frame yang modelnya banyak dan menarik sehingga bikin bingung itu, akhirnya dia memilih frame dengan lensa agak besar dan bentuknya kotak. Warnanya hitam dope. Dia pun lalu datang ke kasir untuk menanyakan berapa harga lensanya. Setelah mikir agak lama dan merasa harganya masih terjangkau -dengan catatan selama sebulan ke depan dia jangan banyak jajan-, dia putuskan untuk beli kacamata itu. Teteh petugas yang diketahui namanya Dian itu pun lalu meminta Anu untuk diperiksa matanya, meski dia sudah memperlihatkan resep mata yang dibuat dokter mata pada Ramadan lalu.

Hasilnya ternyata mencengangkan, karena dari pemeriksaan dengan alat dan manual, hasilnya berbeda. Untuk mata kiri minusnya “hanya” -5.75 dengan silindris cukup besar, dan mata kanan minusnya lebih besar, yakni -6,5 dengan silindris agak lebih kecil. Wow. Yang lebih mengagetkan, ternyata kacamata bulat yang baru seminggu dibeli lensanya cukup ngaco, dua-duanya minus 6. Wew. Pantas saja Anu merasa sangat pusing setiap pakai kamacata itu.

Yang lebih mengagetkan lagi dan bikin dia lemas, harga lensa yang harus dia bayar ternyata naik dua kali lipat karena harga yang tertulis di gerai itu maksimal hanya untuk minus 6 saja. Duh.

Setelah mikir agak lama, dengan agak berat hati dia pun menyerahkan ATM untuk digesek di mesin EDC. ATM pun digesek, dan uang tabungannya pun kembali mendekati tandas. Sementara gajian masih lama. Alamat dia harus banyak mutih selama Oktober ini.

“Ya mau bagaimana lagi, daripada pusing terus, mending pakai lensa yang sesuai. Lebih baik mahal tapi ukurannya sesuai daripada terus beli kacamata karena ukurannya salah terus,” ujar dia sambil menutup pembicaraan.

Begitulah pemirsa. Pesan moral dari cerita ini, jagalah mata Anda agar tidak perlu pakai kacamata. Kalau pun harus pakai kacamata, minus lensanya tidak terlalu besar, sehingga harganya masih masuk akal. Dan janganlah mengikuti perilaku si Anu yang terlalu pelit untuk membeli sesuatu agak mahal, padahal untuk kesehatan matanya. Sehingga kini dia punya tiga kacamata dengan ukuran lensa yang berbeda-beda.

Cag!

Ada komentar?

%d bloggers like this: