Drama Harbolnas 2017

Setiap tanggal 12 Desember, sebagian pelaku usaha e-commerce menggelar hajatan besar, yakni pesta diskon yang (diklaim) gede-gedean, yakni Harbolnas. Entah itu diskonnya memang benar atau pura-pura diskon. Salah satu lapak yang menggelar harbolnas adalah toko buku Gramedia.com.

Nagabumi II

Buku yang tak punya judul


Awalnya saya tak begitu berminat untuk ikut-ikutan belanja daring. Bukan apa-apa, saya memang jarang jajan online, dan terutama kondisi keuangan yang pas-pasan. Apalagi harus menyiapkan uang yang cukup besar untuk anu.

Tapi melihat diskon hingga 50% di situs gramedia.com dan banyaknya teman di beberapa grup yang mengabarkan diskon ini membuat pertahanan dompet akhirnya jebol juga. Setelah membaca syarat dan ketentuan Harbolnas di situsnya, akhirnya saya beranikan diri untuk mengeluarkan token BCA yang biasanya selalu tersimpan cukup tersembunyi di tas ransel.

Ya, kapan lagi bisa beli buku apapun yang tersedia di gramedia.com dengan rabat hingga setengahnya? Meski sedang puasa beli buku (karena sebelumnya baru saja beli buku Sapiens seharga sekitar 100 ribu rupiah), akhirnya cari-cari buku yang kira-kira akan dibeli. Setelah cukup lama mencari, dipilihlah dua buku saja untuk dibeli.

Pertama adalah buku karya Stephen Hawking berjudul My Brief History cetakan terbaru. Bukunya cukup tipis dan isinya agak ringan, harganya hanya 60 ribu rupiah saja. Dengan rabat harbolnas, berarti cuma dibanderol 30 ribu saja. Buku kedua adalah novel yang sudah beberapa tahun terakhir saya cari-cari di toko buku, baik itu toko buku luring maupun daring. Buku novel supertebal karya salah satu penulis favorit, Seno Gumira Ajidarma. Ya, betul, Nagabumi II.

Buku tebal dengan jilid yang agak anu

Agak telat memang mencari buku novel jilid 2 dari seri Nagabumi ini. Buku kedua (yang rencananya akan terbit 3 jilid) ini diterbitkan Januari 2011 silam, sementara saya baru tahu ada novel Nagabumi (seri pertama) sekitar 2013-2014, saat tanpa sengaja lihat novelnya di Togamas Buahbatu.

Tapi… buku ini hanya bisa dipesan dalam format print on demand. Artinya, penerbit baru akan mencetak buku jika ada yang pesan, jadi bukan buku yang tersedia di gudang. Dari hasil baca-baca di syarat dan ketentuan, pencetakan buku memerlukan waktu beberapa hari (atau minggu, saya lupa karena kini tautannya tidak bisa saya temukan lagi di situs gramedia). Dan dari baca-baca di ketentuan harbolnas, tidak ada syarat bahwa buku yang bisa dipesan adalah hanya yang tersedia, artinya print on demand pun harusnya bisa dipesan.

Maka dengan iming-iming rabat 50%, yang artinya harga buku menjadi hanya 119 ribu rupiah saja, saya putuskan untuk membeli Nagabumi II ini. Kapan lagi bisa beli buku setebal 980 halaman dengan harga hanya sedikit lebih mahal dari buku Sapiens yang tebalnya hanya setengahnya?

Tapi ternyata negara api keburu menyerang. Perhelatan harbolnas ternyata menarik minat begitu banyak para kutu buku (atau mereka yang suka beli buku dan entah kapan baca bukunya, seperti saya). Akibatnya, jumlah buku yang dipesan konsumen katanya melebihi ekspektasi pihak Gramedia, bahkan katanya pesanannya melonjak hingga 40.000 persen! Hal ini berakibat pada molornya pengiriman buku yang sudah dipesan, termasuk pesanan saya.

Pesanan pun akhirnya dikirim secara dicicil, untunglah saya cuma beli dua buku saja. Meski begitu, tetap saja pengirimannya lama. Setelah menunggu agak lama, akhirnya buku pertama saya datang, yakni yang My Brief History. Mungkin karena banyaknya buku yang harus dikirim, paket buku tipis ini agak terlipat. Tapi bukunya masih bisa dibaca.

Yang jadi masalah adalah buku kedua. Hingga sebulan setelah perhelatan akbar itu, belum ada tanda-tanda buku akan segera dikirim. Beberapa kali saya tanyakan pesanan saya lewat media chat di situs gramedia, tapi jawabannya kurang memuaskan. Saya sadar sih karena ini sistemnya dicetak sesuai pesanan, pasti agak lama, apalagi tebalnya hampir 1.000 halaman. Tapi, saya agak kecewa karena setiap ditanya, CS Gramedia hanya mengabarkan bukunya masih dalam tahap percetakan.

“Meneror” CS Gramedia.com

Hingga akhirnya, pada 26 Januari kemarin, buku tebal itu sampai juga di rumah. Alhamdulillah. Terima kasih Gramedia!

Tapi… saat dibuka, pengemasan bukunya agak mengecewakan. Ya harusnya sadar diri sih, karena ini buku print on demand. Dengan ketebalan yang nyaris mencapai 1000 halaman, buku ini dibuat dengan pengeleman alakadarnya. Tidak seperti Nagabumi I (atau novel Musashi yang juga tebal) dengan sistem hardcover dan jilid mirip kitab. selain itu, di covernya tidak ada tulisan Nagabumi II, yang ada hanya tulisan subjudulnya: BUDDHA, PEDANG & PENYAMUN TERBANG. Bandingkan saja gambar buku di atas dengan sampul dari Goodreads di bawah ini:

Cover asli

Selain itu, karena tidak dijilid dengan cara dijahit, saya harus sangat berhati-hati ketika membukanya. Karena belum apa-apa, sudah ada retakan di bagian tengah buku. Kalau tidak hati-hati, bisa jadi buku ini sudah terbelah sebelum saya tamat membacanya (yang entah kapan itu terjadi).

Tapi dengan berbagai kekurangannya, saya tetap senang akhirnya bisa menambah koleksi buku karya pak Seno. Sekali lagi, terima kasih, Gramedia! Semoga tak bosan gelar Harbolnas di edisi mendatang :D.

Ada komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: