2018, kalian luar biasa!!1!

Halo saudara-saudara. Mengikuti jejak orang lain yang suka menulis semacam refleksi sepanjang 2018, saya pun mau ikut-ikutan bikin. Semacam kaleidoskop lah. Karena tahun ini luar biasa. Banyak hal baru yang tidak terpikir sebelumnya. Terutama dalam hal percintaan.

Tahun 2018 dibuka dengan peristiwa istimewa: Akhirnya saya bisa mengkhitbah seorang perempuan. Alhamdulillahnya, lamaran saya ternyata diterima. Perempuan yang baru saya kenal kurang dari sebulan.

Tapi itulah jodoh. Beberapa kali menjalin hubungan dengan perempuan, ada yang bertahan cukup lama (hitungan bulan), ada juga yang cuma 2 mingguan. Ujungnya sama, berpisah~

Maka, ketika beliau akhirnya mau dilamar alias dikhitbah, meski baru kenal beberapa minggu, diputuskanlah untuk langsung dikhitbah sesegera mungkin. Itu terjadi tepat 1 Januari 2018. Saat proses khitbah, diputuskanlah kami akan menikah di bulan Maret. 

Itu artinya saya cuma punya waktu 3 bulan untuk mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan nikah. Mulai dari mahar, seserahan, undangan, urus-urus administrasi ke KUA, hingga tetek bengek lainnya yang menguras waktu dan tentu saja dompet.

Untunglah di akhir tahun, perusahaan tempat saya kerja memberi bonus di luar gaji (lalu bulan berikutnya ada gaji ketigabelas!). Uang itulah yang akhirnya dipakai untuk membiayai pernikahan kami. Ya meski lumayan menguras tabungan, setidaknya saya tidak meninggalkan utang demi hanya bisa nikah. 

Lalu terjadilah hal yang paling ditunggu-tunggu itu: akad nikah. Tepatnya 18 Maret, sebuah tanggal cantik haha. Alhamdulillah proses paling sakral dalam pernikahan -ijab kabul- berjalan lancar. Ternyata ijab kabul tidak setegang yang dibayangkan. Atau karena pas ijab kabulnya saya baca contekan ya? haha.

Setelah nikah, kami berdua ngontrak sebuah rumah mungil (mungkin lebih tepat dibilang kamar saja) di daerah Soekarno-Hatta. Kontrakan ini dipilih karena pertimbangan dekat dengan tempat kerja istri. Ini adalah pengalaman baru lagi buat saya. Sepanjang hidup, sepertinya baru kali ini benar-benar meninggalkan rumah. 

Di antara saudara-saudara yang lain, cuma saya yang belum pernah merasakan ngekos atau pun tinggal di asrama. Termasuk ketika kuliah. Makanya, ketika pindah ke kontrakan bersama istri, ini pengalaman pertama saya jauh dari orang tua. halah.

Dan sekarang sudah masuk 1 Januari 2019. Setahun berlalu sejak saya melamar pun bojo. JIka tahun lalu jam segini deg-degan menunggu proses lamaran, maka tahun ini kami deg-degan menunggu kehadiran calon penghuni bumi. 

Wilujeng wayah kieu. Cag ah! 

Ada komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: