Pemilu

Dangdutan sambil kampanye

Pemilu serentak yang digelar Rabu (17/4/2019) begitu meriah sekaligus merepotkan bagi sebagian orang. Terutama para petugas pemilu, mulai dari tingkat PPS hingga ke atasnya. Ditambah dengan para simpatisan garis keras dari kedua kubu membikin suasana semakin panas.

Tapi tulisan kali ini bukan tentang pemilu sekarang yang prosesnya masih berlangsung. Ini tentang pemilu 10 tahun lalu. Sekadar bernostalgila.

Jadi 10 tahun lalu, saya cukup aktif terlibat dalam proses pemilu. Tentu bukan sebagai panitia ataupun Panwaslu. Tapi sebagai pewarta alias tukang nulis berita.

Pada Februari 2009 saya baru diterima menjadi wartawan di sebuah koran lokal yang baru berdiri: Bandung Ekspres (sekarang berubah nama jadi Jabar Ekspres). Sebenarnya agak nekat juga saya melamar jadi wartawan meski lulusan matematika. Saat itu saya melamar cuma berbekal pengalaman mengurus majalah Isola Pos dan portal Isolapos online.

Pak SBY lagi kampanye sambil nyanyi sama Changcuters

Nah desk pertama yang ditugaskan ke saya adalah desk politik. Saat itu proses kampanye sudah mulai berlangsung. Saya yang masih hijau dalam dunia jurnalistik dan tak kenal seorang pun wartawan lain di lapangan jadi poekeun alias tak punya ide liputan. Apa berita yang harus saya tulis hari ini? Sementara dalam sehari saya harus menulis minimal 3 berita.

Saat itu bahkan saya tidak tahu di mana kantor KPU dan Panwaslu. Bahkan saya harus sms teman yang warga kota Bandung untuk menanyakan di mana jalan Kancra, lokasi kantor Panwaslu Kota Bandung saat itu. Jangan bayangkan seperti sekarang yang tinggal buka Google Maps. Saat itu, saya masih pakai ponsel Nokia 3200 yang warnanya pink ceria.

Padahal tempat-tempat yang bisa dijadikan sumber berita. Beruntung, para senior di lapangan banyak yang baik hati, bahkan mengarahkan saya harus ke mana atau kasih kabar ketika ada info penting.

Ketika sepi agenda politik, saya suka datangi kantor-kantor parpol burem atau ke kecamatan tanya-tanya persiapan pemilu. Kadang suka salut sama keyakinan para pengurus parpol gurem itu. Mereka selalu percaya diri partainya bakal dapat suara banyak. Meski kenyataannya, dapat lolos batas minimal saja sulit.

Kampanye PPI. Sekarang partainya sudah almarhum

Salah satu tempat favorit mangkal adalah di kantor KPU Jabar di Jalan Garut. Biasanya, banyak isu yang beredar di sini dan dikonversi jadi berita. Terutama ketika waktu pemilihan semakin dekat. Mulai dari kesiapan petugas, logistik pemilu, keamanan, hingga demo-demo juga ada.

Oh iya, dulu di dekat kantor KPU ada tukang bakso yang enak. Kalau tak salah namanya bakso Borobudur. Rasanya luar biasa. Sekali pesan dapat dua mangkok. Yang satu isinya mi+bakso, mangkok satunya berisi kuah dan bakso yang ditaburi bahan lain. Duh jadi lapar~

Semakin dekat ke pencoblosan, kesibukan di kantor KPU, baik yang di Jalan Garut maupun KPU Kota Bandung yang di Jalan Soekarno-Hatta semakin padat. Bahkan kadang saya harus pulang malam.

Kampanye JK-Win sambil dangdutan

Lalu tibalah hari pencoblosan.

Apakah pestanya usai setelah pencoblosan? Tentu saja. Tidak. Bahkan semakin sibuk. Terutama ketika proses rekapitulasi suara sudah masuk level kota atau provinsi. Tiap hari datang ke Media Center buat lihat update terkini tabulasi suara.

Kalau tak salah, grafik perolehan suara itu di situs KPU Jabar dan cukup realtime. Meski saat itu media sosial macam Facebook dan Twitter sudah ada, tapi sepertinya keriuhannya tidak seperti sekarang dalam menyikapi tabulasi suara itu. Atau karena 10 tahun lalu pengguna smartphone baru segelintir orang? Hehe.

Kadang suka bosan ketika liputan rekapitulasi, karena waktunya suka lama. Menatap layar proyektor yang menampilkan berkas excell dengan banyak angka. Lihat para timses berdebat dan beradu data. Saya lupa apakah dalam rapat itu ada yang sampai harus buka kotak suara atau tidak. Yang pasti hampir selalu panas.

Kalau saya yang ke sana buat liputan saja bosan, bayangkanlah bagaimana rasanya menjadi staf dan komisioner KPU yang tiap hari harus ikutan rapat dan mengurusi tetek bengék pemilu. Makanya agak gimana gitu ketika lihat komentar-komentar miring nan pedas dari netizen maha benar dalam menyikapi hasil pemilu sekarang. Meh.

Karena hampir tiap hari nongkrong di kantor KPU, saya (dan wartawan lain) jadi akrab sama tim media center. Salah satunya bu Eldes (almarhum). Juga dengan tim media center KPU kota, salah duanya Pipit dan akang yang saya lupa namanya 🙈.

Berkat sering liputan di KPU pula, saya dapat orderan iklan dari KPU kota 🤣. Padahal sependek yang saya ingat, saya tak pernah menawarkan iklan ke lembaga ataupun narasumber (kalau dapat amplop ya pernah 🙈) . Lumayan, uang honor iklan itulah yang membikin saya bisa kuliah lagi. Karena dari uang itu saya bisa daftar kuliah ke kampus gajah hehe.

Duh mau nulis pendek kok jadi panjang pisan. Untuk para perangkat pemilu yang masih berjibaku dengan segala tetek bengék pemilu, saya sampaikan rasa hormat. Tabik.

3 Thoughts.

  1. Wahh saya baru tahu kalau kamu di Bandung Ekspress hahahha aku pikir selama ini di jabar post :))

    Bandung Ekspress kirain cm PO bis AKAP :))

Ada komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: